Oleh: Tadjul Arifien R.

 

Di antara empat kabupaten di Pulau Madura, Kabupaten Sumenep menyimpan potensi wisata yang boleh dikatakan jauh lebih besar daripada yang selama ini terlihat di permukaan.

Pamekasan, misalnya, dalam dokumen resmi pemerintah daerah menyebut memiliki sekitar 30 destinasi pariwisata.

Sampang, dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten, mencatat 80 Daya Tarik Wisata Kabupaten (DTWK) hingga 2024.

Sedangkan Bangkalan, dalam dokumen perencanaan daerah mencatat 25 objek wisata pada 2022, sementara Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataannya memetakan 31 daya tarik wisata alam, 11 budaya dan 11 hasil buatan manusia atau minat khusus.

Angka-angka itu menunjukkan bahwa potensi pariwisata Madura sebenarnya cukup beragam. Namun, Sumenep memiliki keunggulan tersendiri karena bentang wilayahnya yang luas, terdiri atas daratan dan kepulauan, serta menyimpan warisan sejarah, tradisi, alam, bahari, hingga kekayaan kuliner yang tersebar dari satu kecamatan ke kecamatan lainnya.

Berdasarkan tinjauan dan kajian lapangan yang dilakukan, Sumenep setidaknya memiliki 200 lokasi atau macam destinasi wisata.

Jumlah itu terdiri atas 43 wisata sejarah dan religi, 52 wisata alam, 8 wisata bahari, 8 wisata konservasi, 37 wisata budaya dan seni, 12 wisata minat khusus, serta 40 wisata kuliner.

Angka tersebut bukan hanya berupa daftar tempat rekreasi yang telah dikelola secara komersial. Cakupannya lebih luas, yakni potensi wisata yang mempunyai keunikan, nilai sejarah, kekayaan alam, tradisi masyarakat, flora-fauna khas, hingga produk kuliner yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata.

Karena itu, angka 200 tersebut perlu dibaca sebagai peta potensi wisata Sumenep, bukan semata-mata jumlah objek yang saat ini dikelola pemerintah daerah.

Keunggulan Sumenep memang tidak berhenti pada wisata yang sudah populer. Pantai Badur, misalnya, menawarkan lanskap pesisir yang khas. Pantai Ponjuk di Talango memiliki panorama yang sekilas mengingatkan pada Tanah Lot di Bali. Pantai E Kasoghi di Kebundadap menawarkan perpaduan pantai dan hutan mangrove. Sementara Sumber Kermata di Saronggi serta Pelabuhan Kuno Bintaro menyimpan karakter dan cerita yang berbeda.

Potensi tersebut menjadi semakin menarik ketika memasuki ranah konservasi.

Sumenep memiliki kijang atau rusa di Sapeken, ayam bekisar di Kangean, kakaktua jambul kuning di Masalembu, kucing Busok di Raas, burung gosong di Arjasa, hingga penyu Pilalang di Sapeken.

Kekayaan semacam ini tidak selalu dimiliki daerah lain dalam satu wilayah administratif. Ia bukan hanya objek tontonan, melainkan dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan ekowisata, wisata edukasi, penelitian, dan konservasi berbasis masyarakat.

Demikian pula dengan wisata budaya.

Di Legung terdapat tradisi kasur pasir dan acara Pangantan Ngèka' Sangger. Di Langsar, Saronggi, terdapat upacara Cahè. Ambunten mempunyai Sandur Pantel, sedangkan Kalianget memiliki Tari Ritual Juwâg.

Tradisi-tradisi tersebut sesungguhnya merupakan aset kebudayaan yang dapat menjadi bagian penting dari industri pariwisata apabila didokumentasikan, dikemas, dan dipromosikan secara tepat tanpa menghilangkan makna aslinya.

Kekayaan itu bahkan berlanjut hingga ke meja makan.

Jubâdhâ dari Kopedi, Olet dari Lenteng, dan Tèkay dari Marèngan merupakan contoh kecil dari kuliner khas yang dapat menjadi identitas gastronomi Sumenep.

Dengan demikian, pariwisata Sumenep seharusnya tidak hanya dipahami sebagai urusan pantai, bukit, atau tempat rekreasi. Pariwisata juga menyangkut sejarah, tradisi, satwa, makanan, cerita masyarakat, dan lanskap kepulauan yang membentuk karakter Sumenep.

Apalagi Sumenep memiliki wilayah kepulauan yang sangat luas. Pemerintah daerah mencatat terdapat 126 pulau, dengan 48 di antaranya berpenghuni. Kondisi geografis ini sekaligus menjadi kekuatan dan tantangan dalam mengembangkan pariwisata.

Karena itu, potensi 200 destinasi tersebut membutuhkan satu langkah penting, yaitu kerja dokumentasi dan promosi yang terencana.

Salah satunya melalui penerbitan buku katalog wisata Sumenep yang memuat nama destinasi, lokasi, sejarah atau cerita di baliknya, karakteristik, akses, serta informasi pendukung lainnya. Buku semacam ini dapat menjadi etalase yang memperkenalkan wajah Sumenep secara lebih utuh kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.

Gagasan tersebut bukan tanpa alasan. Pemerintah Kabupaten Sumenep sendiri telah mendorong promosi wisata berbasis desa melalui Festival Desa Wisata. Pada 2024, sebanyak 27 kecamatan ikut memperkenalkan potensi desa wisata unggulan masing-masing. Pemerintah daerah juga menekankan bahwa pengembangan desa wisata harus memberi dampak terhadap kesejahteraan masyarakat.

Promosi yang lebih terstruktur akan membuat destinasi yang selama ini hanya dikenal masyarakat setempat memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam peta perjalanan wisatawan.

Dampaknya pun tidak berhenti pada sektor pariwisata.

Wisatawan yang datang membutuhkan transportasi, penginapan, makanan, oleh-oleh, pemandu, jasa fotografi, hingga berbagai kebutuhan lainnya. Rantai ekonomi itu akan membuka ruang lebih besar bagi pelaku UMKM dan masyarakat di sekitar destinasi.

Pada akhirnya, pengembangan wisata bukan semata untuk mengejar banyaknya orang yang datang. Yang lebih penting adalah bagaimana kunjungan tersebut menciptakan perputaran ekonomi di tingkat masyarakat sekaligus memberi kontribusi terhadap pendapatan asli daerah.

Sumenep sebenarnya sudah menunjukkan bahwa sektor ini mempunyai potensi ekonomi. Pada 2024, PAD yang dikelola Disbudporapar hampir mencapai Rp1 miliar dan bersumber dari tiga destinasi yang dikelola langsung pemerintah daerah, yakni Pantai Slopeng, Pantai Lombang, dan Museum Keraton Sumenep.

Jika tiga destinasi saja mampu menghasilkan penerimaan demikian, maka dapat dibayangkan besarnya peluang ekonomi apabila ratusan potensi wisata lainnya dipetakan, dikembangkan, dikemas, dan dipromosikan secara serius.

Di sinilah angka 200 menjadi penting.

Bukan karena Sumenep harus berlomba sekadar menghitung jumlah destinasi dengan kabupaten lain di Madura, melainkan karena angka tersebut menunjukkan betapa besar kekayaan wisata yang dimiliki daerah ini.

Pekerjaan berikutnya adalah memastikan kekayaan itu tidak berhenti sebagai daftar.

Ia harus menjadi pengetahuan, menjadi promosi, menjadi kunjungan, menjadi aktivitas ekonomi, dan pada akhirnya menjadi kesejahteraan masyarakat Sumenep.***