"Regenerasi menjadi bagian penting dari proses itu," kata Marsiono.

Para penari dan pemusik muda dibina agar tidak sekadar mengetahui Tayub sebagai peninggalan masa lalu, tapi juga mampu memainkannya sebagai bagian dari pengalaman berkesenian hari ini.

Di tengah perubahan selera hiburan, langkah semacam ini menjadi penting. Kesenian tradisional memiliki kesempatan untuk bertahan ketika ada ruang bagi generasi muda untuk mempelajarinya tanpa merasa sedang berjarak dengan zamannya.

Makan Ati mencoba menyediakan ruang tersebut.

Pertunjukan menjadi salah satu cara sanggar mempertemukan kesenian tradisional dengan masyarakat. Mereka tampil dalam berbagai kegiatan budaya, hajatan, hingga festival daerah.

Dari panggung-panggung itu, Tayub tidak berhenti sebagai arsip kebudayaan. Ia tetap harus menemukan penonton dan pelaku baru.

Ruang Bertumbuh

Daya tarik Makan Ati tidak semata terletak pada pertunjukannya. Lebih dari itu, sanggar ini menawarkan ruang bagi siapa saja yang ingin mendekati dunia seni.

Pamekasan memiliki banyak tradisi, seniman, komunitas dan potensi kebudayaan. Namun sebuah ekosistem seni membutuhkan tempat untuk bertemu, berlatih, bereksperimen dan mempertunjukkan karya.

Di titik itulah sanggar memiliki peran.