Mengusung tema “Aksara Pati” (Aksi Semarak Pagelaran Makan Ati), sanggar menampilkan Tayub Madura dan mengundang pelaku seni, masyarakat serta sejumlah unsur pemerintahan dan tokoh masyarakat.
Momentum tersebut menjadi semacam penanda perjalanan. Namun bagi Makan Ati, panggung terpenting sesungguhnya adalah panggung yang terus dibangun setelah perayaan selesai.
"Kita ciptakan ruang latihan, proses belajar bersama, dan coba menggugah keberanian generasi muda untuk kembali mencintai seni-budayanya sendiri," lanjut Cahyanto.
Di sanalah barangkali menurutnya, masa depan kebudayaan Madura dipertaruhkan. "Bukan pada seberapa sering sebuah tradisi disebut, tetapi pada seberapa banyak orang yang masih bersedia mempelajari, memainkan dan menghidupkannya," katanya.
Bagi pecinta seni dan budaya di Kota Gerbang Salam, Sanggar Seni Makan Ati tidak saja dilihat sebagai tempat pertunjukan. Ia menjadi salah satu ruang yang bisa dikunjungi untuk mengenal denyut kesenian Pamekasan dari dekat.
Dan barangkali, dari ruang-ruang kecil semacam inilah, kebudayaan besar terus menemukan generasinya. ***

