PAMEKASAN, DIMADURA — Sebuah sanggar seni tidak selalu lahir dari gedung pertunjukan yang megah. Kadang ia tumbuh dari kegelisahan sekelompok orang yang merasa bahwa kebudayaan akan kehilangan rumah jika tak ada yang bersedia merawatnya.

Kegelisahan semacam itu menjadi salah satu napas panjang Sanggar Seni Makan Ati. Berdiri sejak akhir Agustus 1999, sanggar yang beralamat di RT 01/RW 07, Kelurahan Bugih, Kecamatan Kota Pamekasan, ini bertahan sebagai salah satu ruang aktivitas seni dan budaya di Kota Gerbang Salam.

Nama “Makan Ati” memiliki kepanjangan MAdura Kandang Aktivitas dan Kreativitas. Di balik permainan kata itu tersimpan gagasan sederhana, bahwa Madura perlu memiliki ruang bagi orang-orang yang ingin beraktivitas dan berkreasi melalui seni.

Sanggar ini didirikan oleh Marsiono, yang akrab disapa Mas Yono, bersama Cahyanto. Menurut Cahyanto, perjalanan Makan Ati bermula dari komunitas teater. Dari sana, aktivitasnya berkembang ke berbagai bidang, mulai seni musik, tari, seni rupa hingga sastra.

“Awalnya kami berangkat dari komunitas teater. Dari situ kemudian berkembang menjadi ruang untuk seni musik, tari, rupa, dan sastra. Kami ingin Makan Ati tetap menjadi ruang aktivitas dan kreativitas bagi siapa saja yang ingin berkesenian,” kata Cahyanto, dalam keterangannya saat merayakan Ultah Sanggar Seni Makan Ati yang ke-28, Minggu (13/9/2026).

CINDERAMATA: Ketua Sanggar Seni Makan Ati, Marsiono (Mas Yono), menerima cinderamata dari Bupati Pamekasan, diserahkan melalui Kadisdik Pamekasan, Basri. (Istimewa/doc.dimadura)

Perjalanan hampir tiga dekade membuat sanggar ini tidak berhenti sebagai komunitas pertunjukan. Makan Ati berkembang menjadi ruang belajar, tempat bertemunya pelaku seni lintas generasi sekaligus ruang bagi generasi muda untuk mengenal kembali kesenian daerahnya.

Tayub Madura

Salah satu perhatian yang kini cukup kuat adalah upaya menghidupkan kembali Tayub Madura.

Tayub merupakan kesenian tradisional Madura itu dihadirkan dalam gerak interaksi antara penari dan penonton dengan iringan musik gamelan khas Madura.

Di tangan para pelaku Sanggar Makan Ati, Tayub ditempatkan sebagai kesenian yang perlu terus dipelajari, dipentaskan, dan diwariskan.

"Regenerasi menjadi bagian penting dari proses itu," kata Marsiono.

Para penari dan pemusik muda dibina agar tidak sekadar mengetahui Tayub sebagai peninggalan masa lalu, tapi juga mampu memainkannya sebagai bagian dari pengalaman berkesenian hari ini.

Di tengah perubahan selera hiburan, langkah semacam ini menjadi penting. Kesenian tradisional memiliki kesempatan untuk bertahan ketika ada ruang bagi generasi muda untuk mempelajarinya tanpa merasa sedang berjarak dengan zamannya.

Makan Ati mencoba menyediakan ruang tersebut.

Pertunjukan menjadi salah satu cara sanggar mempertemukan kesenian tradisional dengan masyarakat. Mereka tampil dalam berbagai kegiatan budaya, hajatan, hingga festival daerah.

Dari panggung-panggung itu, Tayub tidak berhenti sebagai arsip kebudayaan. Ia tetap harus menemukan penonton dan pelaku baru.

Ruang Bertumbuh

Daya tarik Makan Ati tidak semata terletak pada pertunjukannya. Lebih dari itu, sanggar ini menawarkan ruang bagi siapa saja yang ingin mendekati dunia seni.

Pamekasan memiliki banyak tradisi, seniman, komunitas dan potensi kebudayaan. Namun sebuah ekosistem seni membutuhkan tempat untuk bertemu, berlatih, bereksperimen dan mempertunjukkan karya.

Di titik itulah sanggar memiliki peran.

Makan Ati dapat menjadi salah satu pintu bagi anak muda Pamekasan yang ingin mengenal tari, musik, teater, sastra maupun kesenian tradisional Madura.

Keberadaan ruang semacam ini juga membuka kemungkinan lahirnya kolaborasi antara seniman senior dan generasi muda.

Bagi masyarakat yang selama ini hanya menjadi penonton, sanggar memberi peluang untuk lebih dekat dengan proses kreatif di balik sebuah pertunjukan.

Seni pada akhirnya bukan sekadar tontonan. Ia juga cara sebuah masyarakat mengenali dirinya sendiri.

Menjaga Tradisi

Upaya mempertahankan Tayub Madura yang dilakukan Makan Ati memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu berarti mempertahankan sesuatu dalam bentuk yang beku.

Tradisi justru membutuhkan manusia yang terus memainkannya.

Ketika anak-anak muda belajar menari, memainkan musik pengiring, memahami karakter pertunjukan dan kemudian tampil di hadapan masyarakat, sebuah tradisi kembali mengalami kehidupan.

Karena itu, keberadaan Sanggar Seni Makan Ati layak diperhatikan bukan semata karena usia sanggar yang telah mencapai puluhan tahun. Yang lebih penting adalah kerja kebudayaan terus dilakukan: membuka ruang aktivitas, melatih generasi baru dan membawa seni Madura kembali ke hadapan masyarakat.

Semangat itu pula yang terlihat dalam perayaan HUT ke-28 Sanggar Makan Ati pada Minggu malam 13 September 2026.

Mengusung tema “Aksara Pati” (Aksi Semarak Pagelaran Makan Ati), sanggar menampilkan Tayub Madura dan mengundang pelaku seni, masyarakat serta sejumlah unsur pemerintahan dan tokoh masyarakat.

Momentum tersebut menjadi semacam penanda perjalanan. Namun bagi Makan Ati, panggung terpenting sesungguhnya adalah panggung yang terus dibangun setelah perayaan selesai.

"Kita ciptakan ruang latihan, proses belajar bersama, dan coba menggugah keberanian generasi muda untuk kembali mencintai seni-budayanya sendiri," lanjut Cahyanto.

Di sanalah barangkali menurutnya, masa depan kebudayaan Madura dipertaruhkan. "Bukan pada seberapa sering sebuah tradisi disebut, tetapi pada seberapa banyak orang yang masih bersedia mempelajari, memainkan dan menghidupkannya," katanya.

Bagi pecinta seni dan budaya di Kota Gerbang Salam, Sanggar Seni Makan Ati tidak saja dilihat sebagai tempat pertunjukan. Ia menjadi salah satu ruang yang bisa dikunjungi untuk mengenal denyut kesenian Pamekasan dari dekat.

Dan barangkali, dari ruang-ruang kecil semacam inilah, kebudayaan besar terus menemukan generasinya. ***