Petani di Sumenep Kurangi Tanam Tembakau, Iklim Jadi Penyebab
NEWS DIMADURA, SUMENEP–Luas areal tanam tembakau di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, pada 2025 turun drastis dibandingkan tahun sebelumnya.
Hal tersebut menjadi masalah yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah untuk memberikan solusi bagi para petani tembakau.
Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep mencatat, jika pada 2024 luas tanam mencapai 15.000 hektare, tahun ini hanya sekitar 8.000 hektare.
Kepala DKPP Sumenep, Chainur Rasyid, menjelaskan bahwa anomali iklim menjadi penyebab utama penurunan tersebut.
Kondisi kemarau basah membuat petani enggan memperluas lahan tanam karena khawatir hasil panen tidak optimal.
“Pertanian sangat bergantung pada cuaca. Ketika iklim tidak mendukung, petani memilih mengurangi luas tanamnya,” kata dia, Kamis (18/9/2025).
Pria yang akrab disapa Inung tersebut menambahkan, berbeda dengan komoditas pangan strategis, tembakau tidak termasuk dalam kategori tanaman yang mendapatkan pupuk bersubsidi.
Sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 10 Tahun 2022, subsidi pupuk hanya diberikan untuk sembilan komoditas, yakni padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, tebu rakyat, kakao, dan kopi.
Jenis pupuk yang disubsidi meliputi urea dan NPK yang diproduksi PT Pupuk Indonesia (Persero).
“Untuk tembakau tidak ada subsidi pupuk. Subsidi hanya berlaku bagi komoditas pangan pokok dan strategis,” tegasnya.
Mengenai proyeksi ke depan, Inung menyebut sulit memprediksi luas tanam tembakau pada 2026.
Menurutnya, keberanian petani menanam kembali akan sangat ditentukan oleh kondisi iklim.
“Kalau cuaca mendukung, petani biasanya berbondong-bondong menanam tembakau lagi,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Moh Faiq, petani muda asal Kecamatan Guluk-Guluk. Tahun ini, ia mengurangi jumlah tanaman tembakaunya hingga separuh.
Jika sebelumnya menanam sekitar 20.000 batang, pada musim tanam 2025 ia hanya menanam sekitar 10.000 batang.
“Cuaca yang tidak menentu membuat kami khawatir merugi. Jadi, kami kurangi jumlah tanaman,” katanya.
Faiq menambahkan, ia dan petani lainnya masih akan melihat perkembangan iklim sebelum menentukan skala penanaman tahun depan.
“Kami menggantungkan harapan pada tembakau. Tapi kalau kondisi tidak memungkinkan, kami tentu harus mempertimbangkan ulang,” ujarnya.***
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow





