“Hidup itu seperti merawat anggrek. Tidak cukup hanya menyiram, perlu sabar menunggu waktunya berbunga.” kata Didik Setia Budi kepada wartawan media ini, Jumat (4/9/2026) sore.

 

SAYA mengenal Didik sejak pertama kali terjun menjadi wartawan Jejak.co tahun 2017 silam, setelah sebelumnya resign dari dunia belajar mengajar di SMANU Sumenep dan SMP Katolik Santo Yusuf.

Dua tahun kemudian, kebersamaan kami menjadi lebih dekat ketika kami sepakat menyewa satu kantor untuk Jejak.co, Seputar Jatim, dan Seputar Madura.

Jejak.co saat itu dipimpin Ahmad Ainol Horri, yang kini menjadi anggota Komisi Informasi (KI) Sumenep. Seputar Madura dikelola Normanita Dwi Kartika, yang sejak 2025 (kalau nggak salah) juga telah menjadi ASN.

Hanya Didik dan saya, yang tetap bertahan di profesi jurnalis atau, wartawan. Dalam kurung, wartawan asli wartawan.

Pengalaman yang paling saya ingat bersamanya adalah ketika kami masih sering liputan bareng. Salah satunya saat mengikuti kunjungan Bupati A. Busyro Karim ke Masalembu (November, 2019), sambilalu kita meliput keberadaan Kakatua Jambul Kuning.

Setahun kemudian, kami kembali melakukan liputan bersama ketika melakukan konfirmasi sebuah kasus ke rumah Kepala Desa di Kecamatan Pragaan. Saat itu, Didik masih berstatus sebagai kontributor NET TV.

Nasib Jurnalis Televisi Kata Didik

BAGI Didik Setia Budi, televisi adalah ruang belajar sekaligus tempat melihat sisi lain industri media.

Pengalamannya sebagai kontributor NET TV dan BTV kemudian mengantarnya membangun Diluar TV, kanal yang menampung karya jurnalistik yang tak tersiar di televisi.

Di luar liputan, Didik merawat kecintaannya pada anggrek dan burung berkicau. Berikut percakapannya tentang jurnalistik, televisi, Diluar TV, dan perjalanan hidupnya.

Kenapa Mas Didik pilih jadi Jurnalis TV, dan kenapa pula resign dari NET TV, juga dari BTV?

Suka aja. Tapi ini ya, bahwa dunia pertelevisian itu karakternya adalah mengejar rating. Maka bener kata penyanyi itu, "Televisi memuat berita tak penting. Mengejar rating."

Jadi kamu itu keluar dari kontributor TV itu karena nggak suka kerja untuk TV?

Ya, karena televisi itu adalah industri yang kapital. Sangat kapital. Jadi konteksnya itu, wartawan bagi perusahaan TV itu sama dengan tuan dan tenaga kerja.

Jadi bagaimana itu sebuah nilai; kalau barang itu di pabrik memiliki nilai, maka barang dalam televisi adalah berita. Maka industri televisi itu mendapatkan nilai dari pergerakan kontributor. Alat-alat kapitalnya di situ.

Makanya, ketika sistem kerja di dunia pertelevisian kita itu masih seperti hari ini, ini sama aja dengan burung maspion dan tidak akan pernah menyejahterakan.

Tapi bukankah fee-nya itu lumayan? Kalau nggak salah, setiap video dihargai Rp300 ribu?

Ya betul.

Tapi dimuat setiap kapan atau seperti apa?

Susah. Karena berlapis ya, ceknya itu berlapis. Dari mulai korlip, korda, kemudian ada produser.

Jadi juga ada penyeragaman wilayah. Enggak semua berita Madura masuk, walaupun ngirim setiap hari. Makanya, susah di situ.

Gimana teman-teman kontri TV Semadura yang jumlahnya 40 orang itu hidup? Mereka hidup bukan dari TV, mereka hidup dari pekerjaan lain selain kontributor TV. Itu pasti, bisa dicek ke semua teman TV. Saya yang bicara.

Masa iya?

Iya

Sebab Diluartv

Itulah yang kemudian membuat kamu mendirikan media Diluar TV?

Ya. Betul, ini (diluartv) adalah sebuah bentuk penghargaan atas karya Jurnalis TV yang selalu dibuang atau didrop.

Oh ya?

Ya, karena ini tidak layak tayang, ini tidak, kurang sekuen, kurang ini. Nah makanya ini kita tampung semua Diluar TV.

Tetala Didik Setia Budi

Mas Didik lahir tahun berapa?

Saya lahir di Dapil Kota, di Kalianget, di pinggir laut, Jalan Tasik Temor, Kompleks PT Garam Persero. Tahun 1983. Bulan Maret. Tanggal satu. Orangtua dari Solo, tapi saya lahir di sini. Saya bangga jadi orang Kalianget, Sumenep.

Saya lahir tepat saat “Serangan Fajar”, Pak Harto.

Waktu itu orang-orang menonton televisi hitam putih, menghasilkan sebuah proses semi kudeta saat itu.

Tanggal 1 Maret saat itu ya, viral istilah ini: janur kuning, operasi janur kuning kita mengenalnya.

Transisi dan Peralihan Karir

Bisa disampakkan masa peralihan kerjamu dari Net TV? Saya tahu waktu itu kamu juga mengelola Seputar jatim?

Jadi gini, bahwa industri TV itu sama seperti industri perkapalan. Kalau di perkapalan kita mengenal Perusahaan Meratus, Perusahaan Sino-Line Group atau Aisino Corp, seperti juga PT Garam, perusahaan anu lah, alat angkut kapal itu ya, sama juga seperti itu. RCTI, TVRI, dlsb.

Ini hanya soal pindah dari kapal satu ke kapal lain. Misalnya naik ke kapal apa hari ini, aku naik ke kapal Metro TV, besok mungkin naik ke kapal TVRI, dan selanjutnya dari Meratus ke Sino Line, dari PT Garam ke ini, itu hanya soal..., makanya tidak akan pernah ada kontributor TV yang menetap pada satu stasiun.

Ngomong-ngomong, dari NetTV itu kapan kamu berhentinya?

Ya, sekitar tahun 2019-2020 itu lah
Saya di NET TV sudah di awal berdirinya Net TV. Itu saya di 2013, sampai tutup, ketika kantor NET TV Biro itu di sana, di Surabaya. Jalan Nibong Malang, di situ Kantor Net TV Biro.

Saat NET TV tutup, ataukah sebelumnya kamu sudah sambilalu jalankan Seputar Jatim?

Ya, sebelum NET TV tutup, Seputar Jatim sudah ada. Tiga tahun sebelum itu, Seputar Jatim dah jalan. Tapi karena nggak nge-pull ke dapur ya, kita jual. Sekarang medianya tambah besar, kita kadang menyesal.

Setelah Seputar Jatim, Madura Channel ya? Atau Diluar TV dulu?

Madura Channel sebelum itu malah. Sebelum sempat aku jalankan kembali Madura Channel yang sebelumnya sempat mati suri, sebenarnya aku dah bikin ini, akun tiktok diluartv.

Akun Tiktok Fauzi Diluar TV

Sebelum lalu karena ada kepentingan Pilkada, demi mendukung sahabat saya, Gus Fauzi, Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo, kuubah sebentar nama akunnya menjadi Fauzi Diluartv.

Jadi tiktok saya itu bernama awalnya memang tak kasi nama Diluartv. Ya, nama itu berangkat dari, karena dunia televisi seperti yang saya jelaskan di awal itu tadi.

Jadi, akun Tiktok Fauzi Diluar TV yang sempat ngetren itu, sebenarnya berangkat dari persahabatanku dengan Gus Fauzi.

Aku bersahabat dengannya bukan karena duit. Itu harus dicamkan. Harus ditulis itu.
Bukan karena duit ya, tapi karena persahabatan.

Andai kata saya karena duit, saya mungkin akan sering berkendara dengan Babur, bos proyek² besar itu, atau dengan Imam Kasengan, dengan Mas AG. Itu aja. Jadi saya tidak. Sekali lagi bukan karena duit. Jadi lebih karena persahabatan.

Jadi kontributor BTV mulai kapan?

NET TV karena kolaps ya waktu itu, akhirnya masuk di BTV. Mulai sekitar tahun ini, 2020. Sempat kerja di situ 3 tahun, tapi lagi-lagi ya, (gajinya, red) tidak sampai UMR, akhirnya yang mengalah ke keadaan, lebih baik fokus di satu pekerjaan.

Sampai 2023 aku di BTV.

Berarti setelah NetTV langsung pindah ke BTV? Atau langsung pegang Fauzi Diluar TV?

Fauzi Diluar TV, pokoknya itu saya bikin sudah sebelum Pilkada 2024. Dulu belum ada Fauzi-nya, masih Diluar TV saja. Cuma waktu itu belum booming, kan..

Berarti ada Diluar TV duluan, kemudian ditambah jadi Fauzi Diluar TV?

Ya, begitu. Sekarang, karena sudah selesai Pilkada, jadi namanya kembali kita ubah menjadi Diluar TV saja, dan sekalian tak buatkan websitenya, awal tahun 2025 kemarin.

Karena gini ya, semangatnya di politisi PDIP yang saya pahami ya, seperti halnya Mas Kaisar itu buat Kaisar TV, lalu Gus Fauzi, itu sebenarnya mau buat Fauzi TV. Tapi namanya bukan Fauzi TV, Fauzi Diluar TV. Seperti itu.

Ini memang untuk apa ya, untuk penyampaian giat-giat kerakyatan Wong Cilik itulah tadi itu.

Jadi antar politisi satu dengan yang lain, walau sama partai, imegologi yang dibangun itu kadang memang tidak sama. Emang beda.

Karena kita, di ranah politik Gus Fauzi, kan ada sampai ke kepulauan nih. Ada Masalembu, ada Kangean. Gimana kita bisa tahu itu? Ya melalui kanal itu tadi, Diluar TV.

Wartawan Penyuka Anggrek dan Burung Berkicau

Sejak kapan suka burung, suka tanaman? Saat jadi wartawan apa memang dari...?

Sejak dulu. Seorang penulis itu ya, mungkin tanpa harus bertanya, pasti punya kebiasaan unik. Entah itu tanaman, entah itu memelihara burung, itu pasti punya.

Menulis itu lebih sulit daripada menyelesaikan pekerjaan kantor, itu yang saya rasakan.
Jadi memang butuh pelampiasan itu. Di Lomba Kicau Mania, sama di Anggrek itu tadi.

Liputan Paling Berkesan

Menurutmu kapan, dan seperti momen liputan paling berkesan?

Ada itu, adalah saat Jokowi nol suara dan disidak oleh Kapolri dan Panglima saat itu.
Itu tepatnya di lokasi Kecamatan Ketapang, ada Almarhum C. Syahid ya.

Di tahun berapa?

Yang Jokowi di periode pertama. Itu Jokowi nol suara ketika itu.

Nol suara, dan saya masih ingat, nama TPS itu TPS Bira Barat. Kalau nggak salah di pinggir jalan, di pinggir laut itu di sana, kotak suara dicolok semua. Kita yang ngambil gambar ya sangat hati-hati itu, dibantu sama pengamanan dari teman-teman Brimob.

Anak Pencipta Logo Diluartv

Anak sudah berapa?

Anak saya dua, Muhammad Ghozi As-syauki dan Kiswa Najmi As-syifa.

Kalau seorang jurnalis ya, atau wartawan lah secara umum ya, pasti mereka menyekolahkan anaknya di sekolahan terbaik ya. Saya sekolahkan anak saya di sana, di SDIT AL-Hidayah, Pangarangan, Sumenep.

Itu, anak saya As-syauki itu yang bikinkan logo Diluartv malah. Alhamdulillah kemarin dapat medali emas dia itu. Di Olimpiade Sains apa gitu kemarin. Lupa.

Mimpi Diluartv

Terakhir harapan Mas Didik untuk Diluartv?

Semoga Diluartv menjadi wadah ya, wadah dipercaya oleh masyarakat luas, walaupun itu berat untuk mendapatkan kepercayaan itu. Kita mau tampilkan apa yang riil di keseharian kita.

Mulai dari aktivitas apapun. Ekonomi, sosial, politik, budaya, dan mungkin juga: CINTA.

Kita punya tiga medsos, Tiktok, Instagram, Facebook, dan website itu tadi: DILUARTV.

***