BEGITU kata Haji Adi, sapaan akrab Pemimpin Redaksi (Pemred) Update Jatim, H. Adi Pranoto, saat diwawancara jurnalis media ini tentang cara pandangnya terhadap jurnalistik dan pengalaman panjangnya sebagai wartawan lapangan, Senin (7/9/2026).

Lahir di Karanganyar, Kecamatan Kalianget, Sumenep, 8 Januari 1992, Adi tumbuh menjadi jurnalis yang banyak menghabiskan waktunya di lapangan.

Dalam kehidupan keluarga, ia merupakan ayah bagi tiga anak: Alfado Desta Pranoto, Aprilio Ezhar Pranoto, dan Arraudha Zevania Putri Pranoto.

Bukan Hanya Kasuistik

Menurut Adi, berita tidak melulu harus berangkat dari perkara, konflik, atau persoalan yang bersifat kasuistik.

Ada banyak cerita yang bisa ditemukan ketika wartawan mau turun langsung, menjelajah tempat, bertemu warga, dan mendengar cerita dari mereka yang berada di sana.

“Bagi saya, berita itu tidak selalu harus lahir dari sebuah kasus. Kasuistik saja tidak bagus. Kadang, ia tumbuh dari tempat yang jauh, dari cerita warga, atau dari potensi daerah yang belum banyak diketahui,” tuturnya.

Pandangan itu tumbuh dari perjalanan Adi di dunia jurnalistik. Ia mulai bekerja di media sejak 2014, ketika bergabung dengan Jawa Pos Radar Madura (JPRM), meski saat itu ditempatkan di bagian manajemen, bukan keredaksian.

Tiga tahun kemudian, pada awal 2017, ia benar-benar masuk ke dunia jurnalistik lapangan sebagai wartawan Koran Harian Pojok Kiri.

Sejak saat itu, ia mulai lebih banyak bersentuhan dengan peristiwa, masyarakat, dan berbagai potensi yang ada di ujung timur Pulau Madura.

Ruang Jurnalistik

Ketertarikan Adi terhadap dunia kepenulisan sebenarnya telah tumbuh sejak masa mahasiswa.

Ia tercatat sebagai mahasiswa Universitas Wiraraja (UNIJA) Madura sejak 2009 hingga 2014. Selama masa itu, ia aktif dalam sejumlah organisasi mahasiswa, seperti BEM, PMII, dan UKM. Di lingkungan UKM, ia juga aktif di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM).

"Di LPM itu saya belajar lebih tentang dunia tulis-menulis. Termasuk waktu itu kita aktif menerbitkan buletin, Buletin Mafia namanya, akronim dari Mahasiswa Fisip UNIJA," ungkapnya.

Pengalaman berorganisasi itu menjadi salah satu ruang awal yang memperkenalkannya pada dunia kepenulisan dan aktivitas pers mahasiswa.

Selepas kuliah, ia mendapat kesempatan bekerja di Jawa Pos Radar Madura pada 2014. Saat itu, ia berada di bagian manajemen, bukan keredaksian.

Baru pada awal 2017, ia mulai aktif sebagai wartawan lapangan di Koran Harian Pojok Kiri. Di media tersebut, ia bertahan hingga 2025.

Seiring tumbuhnya media online lokal di Sumenep, tepatnya sejak 2018, Adi juga menjadi kontributor di sejumlah media daring.

Perjalanan itu terus berlangsung hingga akhirnya pada 2023, di tengah persaingan industri media yang semakin ketat, ia memilih membangun ruang medianya sendiri: Update Jatim.

Selain dunia media, Adi juga sempat mendapat amanah sebagai Humas PD Sumekar pada 2022–2023.

Mengejar Cerita

Bagi Adi, liputan langsung memiliki nilai tersendiri. Ia ingin melihat sendiri tempat yang diberitakan, bertemu orang-orang yang tinggal di dalamnya, kemudian menggali cerita dari sumber pertama.

“Saya lebih suka menulis berita hasil terjun di lapangan langsung,” katanya.

Menurut dia, informasi yang diperoleh di lapangan sering kali jauh lebih kaya daripada keterangan yang didapat melalui percakapan telepon.

Ia melihat perkembangan teknologi turut mengubah cara kerja jurnalistik. Termasuk setelah hadirnya berbagai perangkat berbasis kecerdasan buatan atau AI.

Ia menilai sebagian produksi berita kini cenderung bergerak cepat berdasarkan isu yang beredar, kemudian dikonfirmasi melalui telepon.

Cara itu memang membuat berita lebih cepat diproduksi, tetapi menurutnya ada sesuatu yang bisa hilang: pengalaman langsung di lapangan.

Ia lebih memilih mendatangi lokasi dan menggali cerita dari orang-orang yang benar-benar mengetahui persoalan.

Bukan berarti kasus tidak penting. Namun, menurut Adi, jurnalistik juga mempunyai ruang untuk mengangkat sesuatu yang belum ramai, belum viral, bahkan belum diketahui banyak orang.

Di situlah wartawan memiliki kesempatan untuk menemukan cerita yang berbeda.

Dengar Suara Warga

Ketika mendatangi sebuah destinasi wisata, misalnya, wartawan tidak cukup hanya memotret panorama atau mencatat nama lokasi. Ada juru kunci, tokoh masyarakat, sesepuh, dan warga yang menyimpan cerita di balik tempat tersebut.

Dari merekalah, kata Adi, wartawan bisa menemukan informasi mengenai sejarah, situs, hingga kisah lisan yang diwariskan turun-temurun.

“Kadang di situ kita akan mendapatkan informasi tentang sejarah, situs ataupun kisah lisan lain yang bersifat turun-temurun.”

Cerita semacam itu, bagi Adi, merupakan bahan jurnalistik yang berharga. Sebab, berita tidak berhenti pada informasi permukaan. Ada konteks dan cerita manusia yang membuat sebuah tempat menjadi lebih hidup.

Potensi Daerah

Ketertarikan Adi terhadap liputan lapangan berjalan beriringan dengan kegemarannya menjelajah.

Ia mengaku tidak terlalu tertarik menjadikan kasus sebagai satu-satunya sumber pemberitaan. Sebaliknya, ia lebih menikmati proses menemukan sesuatu yang memiliki nilai bagi daerah.

Pandangan itu semakin kuat ketika Sumenep menggenjot sektor pariwisata melalui program Visit Year 2019. Saat itu, Achmad Fauzi masih menjabat Wakil Bupati Sumenep.

Adi mulai mendatangi sejumlah destinasi yang ketika itu belum banyak diberitakan. Gili Labak, Pantai Sembilan, Pantai Badur, hingga Air Terjun Durbugan di Batuputih menjadi beberapa lokasi yang ia liput.

“Saya mencoba untuk memberitakan itu, mulai dari Gili Labak, terus kemudian Pantai Sembilan, Pantai Badur, terus Air Terjun Durbugan di Batuputih itu, dan lain sebagainya,” tuturnya.

Menurut dia, pemberitaan mengenai potensi daerah bukan semata soal memperkenalkan sebuah tempat. Ada kemungkinan lebih besar di belakangnya: pariwisata dapat menjadi pintu bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Saya melihat, hal-hal apa yang dinilai potensial dapat mendongkrak ekonomi daerah, menggali potensi-potensi yang ada, kita beritakan itu sebagai ide atau inspirasi pengembangan potensi daerah.”

Mata Perjalanan

Salah satu pengalaman yang masih diingat Adi adalah ketika meliput Pantai Sembilan bersama Wabup Achmad Fauzi, yang saat ini menjabat sebagai Bupati Sumenep untuk periode kedua.

Diceritakan, tujuan awal perjalanan itu sebenarnya Gili Labak. Mereka bahkan telah menaiki perahu. Namun, kondisi cuaca membuat perjalanan tidak memungkinkan untuk diteruskan.

"Arah perjalanan kemudian berubah menuju Pantai Sembilan," kisahnya.

Bagi Adi, pengalaman itu bukan sekadar agenda liputan. Ia bisa menjelajah alam sekaligus melihat secara langsung potensi daerah yang hendak diberitakannya.

“Menariknya bagi saya adalah karena bisa menjelajah alam, apalagi ditemani sosok yang saat ini menjadi orang nomor satu di Kabupaten Sumenep,” ujarnya.

Dari sanalah ia menemukan hubungan antara jurnalistik dan kegemarannya bepergian.

“Jadi, bisa dikatakan, semangat jurnalisme saya sebenarnya ada pada dunia travelling.”

Kini, perjalanan jurnalistiknya menemukan bentuk lain melalui Update Jatim. Namun, prinsip yang ia pegang sejak menjadi wartawan lapangan tetap sama: berita tidak harus selalu mencari kegaduhan.

“Ada tempat yang belum dikenal. Ada warga yang belum didengar. Ada sejarah yang belum ditulis. Ada potensi daerah yang belum menemukan jalan menuju pembaca,” urainya.

Dan untuk menemukan semua itu, seorang wartawan menurutnya perlu meninggalkan meja redaksi.

“Harus berangkat,” katanya. ***