Kedua, menemukan solusi dan bertindak tepat.
Hubungan yang dibangun tidak berhenti pada pertemuan. Ada program, layanan, pendampingan, CSR, literasi keuangan, hingga digitalisasi yang kemudian diperkenalkan sesuai kebutuhan masing-masing lingkungan.
Ketiga, mengajak tumbuh dan memastikan manfaatnya dirasakan bersama.
Bank Jatim tidak berdiri sendiri. Ketika ekonomi daerah bergerak, dunia pendidikan berkembang, pesantren semakin terkoneksi, pelaku usaha mendapatkan akses layanan, dan masyarakat memperoleh kemudahan transaksi, di sanalah kehadiran sebuah bank pembangunan daerah menemukan maknanya.
Mungkin itu pula yang membuat perpisahan terasa sedikit lebih cepat dari yang saya bayangkan.
Belum sempat bertemu lagi setelah rencana perjumpaan yang batal karena sakit, Mas Pinca sudah lebih dahulu berpamitan melalui layar ponsel.
Saya hanya bisa menjawab dari teras rumah, dengan badan yang masih belum sepenuhnya pulih.
“Semoga sukses di tempat tugas yang baru, Mas. Semoga selalu diberi kesehatan dan dimudahkan dalam menjalankan amanah.”
Lumajang kini menjadi tempat tugas berikutnya. Sedangkan Sumenep, tentu akan menyimpan setahun jejak kiprah Bambang Eko Budi Prakoso. Hadir membangun jejaring; mendengarkan lebih dekat, jalin komunikasi, temukan solusi, tebar manfaat, lalu pergi membawa amanah baru.
Barangkali memang demikian seorang pemimpin bekerja. Datang bukan untuk memiliki tempat, melainkan untuk memberi arti. Dan ketika waktunya pergi, yang tertinggal bukan jabatan, TAPI JEJAK. ***

