“Kepemimpinan adalah keberanian mendengar dari dekat, menemukan solusi, bertindak tepat, dan mengajak semua orang tumbuh bersama. Terakhir adalah, memastikan manfaat kerja itu dapat dirasakan bersama-sama.”
—————
Begitu kira-kira saya melihat tipikal kepemimpinan Bambang Eko Budi Prakoso, Pimpinan Cabang (Pinca) Bank Jatim Sumenep yang, Rabu (9/9/2026) sore kemarin, tiba-tiba menyampaikan ucapan "Undur Diri" lewat media perpesanan.
Pesan itu saya buka setelah sebelumnya mendapatkan kabar langsung darinya melalui video call seorang teman seprofesi yang kebetulan sedang bersamanya.
Shari sebelumnya, sebetulnya saya sudah dikabari olehnya, bahwa Mas Pinca, begitu saya akrab memanggilnya, bilang ingin bertemu. Tanpa alasan. Tak disampaikan untuk kepentingan apa?
“Semoga sakitku segera sembuh,” kataku kepadanya. Tapi ternyata, hingga perjumpaan itu, tipesku belum benar-benar sembuh.
“Mau gimana lagi, takdir jumpa mungkin bisa di lain waktu,” tulisku, menjawab chat temanku itu, Rabu (9/9) siang.
Sore harinya, setelah makan, minum obat, lalu rebahan di kamar, tiba-tiba WhatsApp handphone-ku berdering.
Video call. Hendra Madura Post. Saya angkat.
“Don, ini Mas Pinca ingin ngomong denganmu,” katanya.
“Sore, Mas. Gimana kabarnya? Sudah mendingankah?”
“O ya, Mas. Alhamdulillah, sudah lumayan baik ini, Mas,” jawabku.
“Alhamdulillah kalau gitu. Jadi ini, Mas. Saya pamit undur diri ya, kami harus pindah tugas ke Lumajang. Terima kasih, dan mohon maaf jika ada yang kurang berkenan di hati jenengan selama bertugas di Sumenep ya,” ucapnya.
Sontak saya terkejut. Sebab, baru kemarin rasanya saya mengenalnya. Tiba-tiba ia sudah harus mengemban tugas di daerah lain.
Benakku menerka-nerka. Mungkin memang begitulah perjalanan seorang bankir. Datang untuk menjalankan amanah, membangun hubungan, bekerja bersama dengan sebanyak mungkin orang, lalu suatu ketika, harus meninggalkan tempat untuk melanjutkan tugas berikutnya.
Setahun di Sumenep, saya kira bukan waktu yang panjang untuk menghadirkan banyak hal berarti.
Setahun, Banyak Jejak
Bambang mulai bertugas sebagai Pimpinan Cabang Bank Jatim Sumenep pada awal September 2025, setelah sebelumnya memimpin Bank Jatim Cabang Bondowoso.
Selama di Sumenep, ia membangun komunikasi dengan banyak kalangan. Pemerintah daerah, DPRD, lembaga vertikal, sekolah, pesantren, pelaku usaha, hingga media menjadi bagian dari jejaring yang ia datangi.
Ia suan langsung dengan Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo, Wakil Bupati KH. Imam Hasyim, Ketua DPRD H. Zainal Arifin, Sekda Agus Dwi Saputra, Kepala Disbudporapar Moh. Iksan, serta sejumlah pimpinan lembaga lainnya.
Komunikasi kelembagaan juga dibangun dengan SKK Migas, Kejaksaan Negeri Sumenep, Rutan, dan Pengadilan Agama.
Di sektor pendidikan, Bank Jatim menjangkau sekolah dan pesantren. Annuqayah dan PP Al-Amien Putri I Prenduan menjadi bagian dari jejaring tersebut.
Dari sini saya melihat satu kebiasaan Bambang. Ia tidak menunggu orang datang ke kantor untuk membangun hubungan. Ia memilih datang, bertemu, berbincang, lalu mencari ruang kerja sama yang bisa dikembangkan.
Dari Kantor hingga Pesantren
New JConnect menjadi salah satu program yang cukup aktif diperkenalkan selama Bambang memimpin Bank Jatim Sumenep.
Promosinya dilakukan secara langsung. Ketua DPRD Sumenep H. Zainal Arifin, misalnya, mendapat pendampingan aktivasi JConnect Mobile.
Di lingkungan Pemkab Sumenep, Bank Jatim memperkenalkan transaksi QRIS melalui program kuliner Rp1 yang melibatkan ASN.
Di sekolah, Bambang bersama jajaran Bank Jatim memperkenalkan literasi keuangan dan Program KEJAR 2026, antara lain di SMPN 1 Kalianget.
Pendekatan serupa dilakukan ke pesantren.
Di PP Al-Amien Putri I Prenduan, Bank Jatim mengembangkan JConnect Edu untuk mendukung kebutuhan transaksi pesantren dan wali santri. Sejumlah sekolah lain di Sumenep juga menjadi sasaran pengenalan New JConnect.
Pola itu menunjukkan satu hal, bahwa digitalisasi tidak cukup diperkenalkan melalui meja kantor. Ia harus dibawa mendekati penggunanya dan, Pinca Bambang memilih cara itu.
Di Tengah Agenda Daerah
Di luar layanan perbankan digital, Bank Jatim di bawah kepemimpinannya boleh dibilang cukup aktif mendukung sejumlah agenda daerah. Melalui CSR.
Dukungan antara lain diberikan dalam rangkaian Event Sumenep 2026. Atas dukungan terhadap kelancaran pelaksanaan kegiatan tersebut, Pinca Bambang bahkan sempat menerima penghargaan dari Bupati Sumenep.
Bagi sebuah bank pembangunan daerah, keterlibatan seperti itu bukan semata urusan bantuan kegiatan. Ada hubungan kelembagaan yang dibangun di dalamnya. Bank hadir sebagai bagian dari ekosistem pembangunan daerah.
Di titik ini, saya melihat sosok pemimpin yang berusaha menempatkan Bank Jatim bukan hanya sebagai tempat transaksi, tetapi sebagai institusi yang ikut bergerak bersama pemerintah dan masyarakat.
Tiga Prinsip Kepemimpinan Pinca Bambang
Kalau harus saya sederhanakan dari cara Pinca Bambang bekerja selama di Sumenep, ada tiga prinsip yang paling terasa.
Pertama, mendengar dari dekat.
Ia memilih bertemu langsung. Mendatangi banyak pihak, membuka komunikasi, dan mendengar kebutuhan sebelum menawarkan kerja sama. Kedekatan baginya bukan basa-basi, melainkan cara memahami persoalan.
Kedua, menemukan solusi dan bertindak tepat.
Hubungan yang dibangun tidak berhenti pada pertemuan. Ada program, layanan, pendampingan, CSR, literasi keuangan, hingga digitalisasi yang kemudian diperkenalkan sesuai kebutuhan masing-masing lingkungan.
Ketiga, mengajak tumbuh dan memastikan manfaatnya dirasakan bersama.
Bank Jatim tidak berdiri sendiri. Ketika ekonomi daerah bergerak, dunia pendidikan berkembang, pesantren semakin terkoneksi, pelaku usaha mendapatkan akses layanan, dan masyarakat memperoleh kemudahan transaksi, di sanalah kehadiran sebuah bank pembangunan daerah menemukan maknanya.
Mungkin itu pula yang membuat perpisahan terasa sedikit lebih cepat dari yang saya bayangkan.
Belum sempat bertemu lagi setelah rencana perjumpaan yang batal karena sakit, Mas Pinca sudah lebih dahulu berpamitan melalui layar ponsel.
Saya hanya bisa menjawab dari teras rumah, dengan badan yang masih belum sepenuhnya pulih.
“Semoga sukses di tempat tugas yang baru, Mas. Semoga selalu diberi kesehatan dan dimudahkan dalam menjalankan amanah.”
Lumajang kini menjadi tempat tugas berikutnya. Sedangkan Sumenep, tentu akan menyimpan setahun jejak kiprah Bambang Eko Budi Prakoso. Hadir membangun jejaring; mendengarkan lebih dekat, jalin komunikasi, temukan solusi, tebar manfaat, lalu pergi membawa amanah baru.
Barangkali memang demikian seorang pemimpin bekerja. Datang bukan untuk memiliki tempat, melainkan untuk memberi arti. Dan ketika waktunya pergi, yang tertinggal bukan jabatan, TAPI JEJAK. ***

