Wujud implementasi dari ngaku lepat tersebut termanifestasi dalam bentuk tradisi sungkeman yang berarti saling mengakui kesalahan selama setahun hidup bermasyarakat.
Tradisi sungkeman atau saling bersalaman ini mengajarkan pentingnya rasa hormat kepada orang tua, sikap rendah hati serta ikhlas untuk saling memaafkan antar sesama.
Filosofi Lebaran
Dalam ajaran Sunan Kalijaga, Lebaran merupakan lanjutan dari penjelasan ngaku lepat, yakni laku papat.
Dalam hal ini, Sunan Kalijaga menguraikan laku papat tersebut dengan 4 istilah, yakni Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan.
1. Lebaran
Kata Lebaran dalam bahasa Madura adalah lebbhârân, berasal dari kata lebbhâr; rampung, selesai, atau terlaksana secara sempurna.
Secara tersirat, kata lebaran dapat dimaknai dengan: usai, atau berakhirlah waktu bulan puasa Ramadan, dan bersiaplah para diri untuk menyongsong hari kemenangan Idulfitri (kembali ke fitrah).
2. Luberan
Bermakna melebur atau melimpah, seumpama air yang tumpah karena wadah sudah terisi penuh.
Pesan moral dalam istilah Luberan ini adalah agar umat Muslim suka berbagi kepada orang yang tidak mampu, seperti rela membayar zakat fitrah karena sejatinya harta itu merupakan hak orang miskin. Kita bayarkan zakat fitrah agar harta kita juga ikut menjadi suci.
3. Leburan
Istilah Leburan atau melebur berarti habis menyatu. Artinya, momen lebaran adalah kesempatan bagi umat Islam untuk meleburkan dosa dengan cara saling bermaafan sehingga mereka benar-benar kembali ke fitrah, kembali suci.

