Filosofi di atas sekaligus menjadi landasan pengharapan agar manusia mampu mengendalikan nafsu duniawi dengan hati nurani yang bersih dan kuat.

Filosofi Kupat Lepet

Kupat lepet atau topa' leppet kata orang Madura adalah salah satu model ketupat dimana bungkusnya sama terbuat dari janur. Bedanya, ketupat isi beras biasa, sementara topa' leppet seringkali identik dengan isian beras ketan.

Ada pertanyaan, mengapa ketupat yang banyak disajikan pada saat Lebaran Ketupat menggunakan bungkus dari bahan janur?

Beberapa sumber menjelaskan bahwa kata Janur sejatinya berasal dari bahasa Arab, yakni Ja’a Nur, yang artinya: telah datang cahaya.

Sementara bentuk fisik ketupat dengan bangun persegi empat itu kerap kali diibaratkan dengan hati manusia.

Saat orang sudah mengakui kesalahannya, maka hatinya seperti ketupat saat dibelah; isinya yang putih bersih berarti hati tanpa iri dan dengki. Ya, bukankah hati kita sudah terbungkus cahaya (ja’a nur)?

Sementara Lepet berarti silep kang rapet, mangga dipun silep ingkang rapet. Artinya, mari kita kubur atau tutup rapat hati ini dari pengaruh sifat-sifat duniawi yang jelek dan buruk.

Dengan makna lain, setelah ngaku lepat (meminta maaf), kita diharapkan tidak mengulangi kesalahan yang sudah dimaafkan, sehinggapun persaudaraan akan menjadi kian erat seumpama sifat lengket pada ketan dalam ketupat lepet.***