4. Laburan
Laburan berasal dari kata labur atau kapur. Kapur sendiri merupakan zat pewarna yang berwarna putih dan bisa digunakan untuk menjernihkan benda cair.
Artinya, hati seorang Muslim harus bisa kembali jernih, putih, seumpama warna dan sifat kapur. Kita lahir dalam keadaan suci dan bersih, maka setelah berpuasa sebulan Ramadan penuh plus 6 hari di bulan Syawal, kita pun harus bisa kembali putih, bersih dan suci dari hal-hal duniawi.
Filosofi Anyaman Ketupat
Lebaran Ketupat sendiri tidak bisa dilepaskan dari sajian ketupat yang terbuat dari anyaman janur atau daun kelapa berisi beras.
Pada dasarnya, bentuk anyaman ketupat sangatlah beragam, tetapi dalam hal ini, Sunan Kalijaga lebih memilih anyaman ketupat yang menyerupai bujur sangkar atau persegi empat. Mengapa?
1. Bentuk persegi empat
Sebab, anyaman ketupat persegi empat lebih pas untuk melambangkan makna laku papat yang dalam bahasa Jawa berarti empat tindakan.
Empat tindakan tersebut antara lain, menahan diri dari ucapan buruk, ajakan hawa nafsu, baik nafsu ammarah maupun nafsu lawwamah, dan segala perbuatan yang dapat merugikan diri manusia.
2. Orong ketupat yang rapat
Sifat anyaman orong ketupat yang rapat juga dapat dimaknai sebagai ngaku lepat sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
Kata rapat juga bisa disebut dengan kata erat. Maka tradisi silaturahmi dan saling bermaafan pada momen Lebaran Ketupat dengan sendirinya juga sangat berkaitan dengan istilah ngaku lepat, yakni dengan melakukannya sebanyak mungkin, sesempat mungkin setiap bertemu dengan sesama Muslim.
3. Isian ketupat
Beras yang menjadi isian ketupat kerap dimaknai sebagai lambang nafsu. Sementara janur sebagai orong atau bungkus ketupat dapat diartikan dengan jati ning nur yang berarti hati nurani.


