Demikian sekilas sejarah tentang Sumenep Kota Keris dalam kacamata aktivis Pusaka Sumenep, Muhsin, saat diwawancara wartawan newssatu.com.
Etika Mengambil Keris
Aktivis Pusaka Muhsin lalu lanjut menjelaskan etika atau tatakrama mengggunakan keris ala masyarakat Sumenep.
"Setelah membaca beberapa literasi, ternyata dalam dunia pekerisan itu ada etikanya, mulai dari etika mengambil hingga mengembalikan keris," ungkapnya membuka keterangan.
Ambil contoh dalam suatu pertemuan atau sarasehan tosan aji yang melibatkan lebih dari dua orang penggemar keris, maka ketika itu biasanya orang Sumenep akan meletakkan keris masing-masing, baik di meja, tikar, hambal, maupun di atas karpet. "Itu apabila dilakukan secara lesehan," kata Muhsin.
Dia menegaskan, keris yang diletakkan tersebut masih satu kesatuan dengan pemiliknya. Sehingga apabila ada seseorang yang ingin mengambil keris yang bukan miliknya, maka berdasarkan norma sosial masyarakat Sumenep, orang tersebut harus meminta izin terlebih dahulu kepada pemiliknya.
Setelah pemilik keris tersebut memberikan isyarat izin, maka barulah orang itu dapat mengambil keris dimaksud.
Etika melihat keris
Mengambil atau melihat keris tanpa izin terlebih dahulu kepada pemiliknya akan menyinggung perasaan pemilik keris; seolah-olah ia telah mengabaikan pemilik keris; bahwa sejatinya keris dan pemiliknya adalah satu kesatuan.
“Mungkin saat mengambil keris di atas kita hanya sekedar mengamati keris dari warangkanya saja, tidak sampai melihat isinya," katanya.
