"Untuk mengelola Pantai Galung secara berkelanjutan, diperlukan legalitas kelembagaan, termasuk Pokdarwis yang kuat dan mampu menjalankan fungsi pengelolaan wisata," jelasnya.

Selain itu, hasil FGD juga mengungkap pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Masyarakat dinilai perlu mendapatkan pelatihan, termasuk kemampuan menjadi pemandu wisata dan keterampilan berbahasa asing guna mendukung pelayanan kepada wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara.

Dalam aspek lingkungan dan budaya, peserta FGD mengidentifikasi sejumlah potensi yang dapat dikembangkan, seperti konservasi mangrove, pelestarian budaya lokal, dan edukasi lingkungan. Namun di sisi lain, terdapat sejumlah tantangan yang harus diantisipasi, di antaranya persoalan sampah, kerusakan ekosistem pesisir, dan potensi komersialisasi budaya yang berlebihan.

Siti menjelaskan bahwa konsep Community Based Tourism harus mampu mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, ekonomi, dan kelembagaan agar manfaat pengembangan wisata dapat dirasakan masyarakat tanpa mengorbankan keberlanjutan kawasan.

Persoalan pendanaan juga menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam diskusi. Para peserta menilai diperlukan inovasi dalam menciptakan sumber-sumber pendapatan bagi destinasi wisata, termasuk menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk menggelar kegiatan edukasi, kemah pelajar, maupun agenda wisata berbasis komunitas di Pantai Galung.

Selain itu, promosi destinasi dinilai masih perlu diperkuat. Selama ini, kawasan wisata yang lebih dikenal di wilayah Batuputih adalah Pantai Badur. Padahal, Pantai Galung memiliki daya tarik tersendiri, salah satunya panorama matahari terbit (sunrise) yang dapat dinikmati langsung dari kawasan pesisir.

Pada sesi diseminasi hasil PkM, Siti Nuurlaily Rukmana memaparkan hasil analisis dan rekomendasi pengembangan CBT di Pantai Galung. Paparan tersebut menekankan pentingnya integrasi antara aspek lingkungan, sosial, ekonomi, dan kelembagaan dalam pengelolaan destinasi wisata pesisir.

Selanjutnya, Andri Zulkarnain memaparkan berbagai strategi teknis pengelolaan destinasi, mulai dari penguatan kelembagaan lokal, peningkatan kualitas pelayanan wisata, pengembangan sumber daya manusia, hingga optimalisasi promosi dan integrasi destinasi dalam sistem pariwisata daerah.

Kegiatan tersebut dihadiri berbagai unsur pemangku kepentingan, di antaranya Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sumenep, KBKPH Madura, KRPH Dungkek, Camat Batuputih, Polsek Batuputih, Koramil Batuputih, Pemerintah Desa Juruan Daya, LMDH Desa Juruan Daya, BUMDes Teratai, HPI Kabupaten Sumenep, Kacong-Cebbing Sumenep, influencer lokal, Tim Ahli Cagar Budaya, praktisi arsitek, antropolog Madura, pendamping desa, hingga Asosiasi Desa Wisata Indonesia (ASIDEWI) Madura Raya.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Terbuka Surabaya yang diketuai Sucipto, S.Pd., M.Sc., dosen Program Studi Pariwisata, dengan anggota Tiara Sevi Nurmanita, S.Pd., M.Pd. dari Program Studi PGSD dan Berlina Hidayati, S.Pd., M.Acc. dari Program Studi Pajak.