Kaban Arif, sapaan akrab Dr. Ir. Arif Firmanto, S.TP., M.Si., mengajak masyarakat agar ikut berinteraksi dengan konsep yang diusung melalui standnya.
Nuansa Keraton, jelasnya lebih lanjut, merepresentasikan jati diri, tata nilai, keteraturan, kepemimpinan, dan kesinambungan sejarah Sumenep. Sementara pendopo menjadi simbol ruang terbuka untuk pertemuan, komunikasi, musyawarah, dan kebersamaan.
Bahkan istilah mandapa, yang berkaitan dengan pendopo Sumenep, menurutnya punya akar kata "mandhap" yang berarti rendah. Filosofi tersebut dapat dimaknai sebagai nilai kerendahan hati, kedekatan, dan kebersamaan dengan masyarakat.
"Pesan itulah yang hendak dibawa Bappeda di MCF #4 ini. Bahwa perencanaan pembangunan tidak berdiri sendiri, perlu berpijak pada karakter, sejarah, potensi, serta nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat," urainya.
Melalui kamera smartphone, pengunjung diajak menangkap sisi lain dari stand tersebut.
"Jadi foto bukan asal foto ya. Hasil yang baik harus menegaskan pesan, bahwa membangun masa depan Sumenep tidak berarti meninggalkan akar budayanya," pungkasnya. ***

