SUMENEP, DIMADURA – Ada cara menarik bagi pengunjung Madura Culture Fest (MCF) #4 untuk mengabadikan kemeriahan festival sekaligus mengenal lebih dekat wajah budaya di ujung timur Pulau Madura.
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, membuka lomba foto menggunakan smartphone di area stand Bappeda.
Lomba tersebut terbuka untuk umum dan berlangsung selama pelaksanaan MCF #4, yakni 26 Agustus hingga 3 September 2026.
Peserta cukup mengambil foto di area Stand Bappeda Sumenep dengan menonjolkan unsur aktivitas, pameran, maupun keunikan stand.
Konsep stand Bappeda sendiri dirancang dengan nuansa Keraton dan Pendopo Agung Songennep, sehingga pengunjung tidak hanya mendapatkan objek fotografi, tetapi juga dapat menangkap pesan mengenai identitas, sejarah, kearifan lokal, dan pembangunan Sumenep.
Kepala Bappeda Sumenep, Arif Firmanto mengatakan, konsep pendopo yang dihadirkan memiliki makna filosofis yang selaras dengan tugas Bappeda.
“Pendopo secara filosofis merupakan ruang yang terbuka, tempat berkumpul, bermusyawarah, menerima aspirasi, dan membangun kesepakatan,” jelasnya, Kamis (27/8) malam.
Menurut Arif, nilai tersebut sejalan dengan peran Bappeda dalam mengoordinasikan perencanaan pembangunan daerah secara partisipatif, terpadu, terarah, dan berkelanjutan.
Karena itu, stand Bappeda tidak hanya ditempatkan sebagai ruang penyajian informasi, tapi juga sebagai representasi rumah perencanaan pembangunan daerah; tempat gagasan, aspirasi, data, dan arah kebijakan dipertemukan.
“Melalui konsep tersebut, stand kami diharapkan tidak hanya menjadi ruang penyajian informasi, tetapi juga menjadi ruang representasi sebagai rumah perencanaan pembangunan daerah,” terang Arif.
Abadikan Keunikan Stand
Dalam lomba foto ini, peserta diwajibkan menggunakan smartphone. Karya yang diikutsertakan harus diambil di area Stand Bappeda Sumenep selama periode lomba dan memuat unsur aktivitas, pameran, atau keunikan stand.
Pengolahan foto juga dibuat sederhana. Edit foto hanya diperbolehkan sebatas cropping, sehingga karya tetap mempertahankan karakter foto yang diambil peserta.
Selanjutnya, foto wajib diunggah melalui akun Instagram pribadi peserta yang tidak dikunci atau bersifat publik.
Peserta wajib mention/tag akun Instagram resmi @bappedasumenep.official, menggunakan tagar #bappedasumenep, #maduraculturefest4, dan #lombafotobappeda, serta menyertakan caption yang menarik dan relevan dengan pesan atau momen di balik foto.
Dari seluruh karya yang masuk, Bappeda akan memilih lima pemenang dengan foto terbaik. Para pemenang akan mendapatkan bingkisan menarik.
Pengumuman pemenang dijadwalkan pada 4 September 2026 pukul 20.00 WIB dan disampaikan secara offline di Stand Bappeda Sumenep.
Budaya sebagai Pijakan Pembangunan
Kaban Arif, sapaan akrab Dr. Ir. Arif Firmanto, S.TP., M.Si., mengajak masyarakat agar ikut berinteraksi dengan konsep yang diusung melalui standnya.
Nuansa Keraton, jelasnya lebih lanjut, merepresentasikan jati diri, tata nilai, keteraturan, kepemimpinan, dan kesinambungan sejarah Sumenep. Sementara pendopo menjadi simbol ruang terbuka untuk pertemuan, komunikasi, musyawarah, dan kebersamaan.
Bahkan istilah mandapa, yang berkaitan dengan pendopo Sumenep, menurutnya punya akar kata "mandhap" yang berarti rendah. Filosofi tersebut dapat dimaknai sebagai nilai kerendahan hati, kedekatan, dan kebersamaan dengan masyarakat.
"Pesan itulah yang hendak dibawa Bappeda di MCF #4 ini. Bahwa perencanaan pembangunan tidak berdiri sendiri, perlu berpijak pada karakter, sejarah, potensi, serta nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat," urainya.
Melalui kamera smartphone, pengunjung diajak menangkap sisi lain dari stand tersebut.
"Jadi foto bukan asal foto ya. Hasil yang baik harus menegaskan pesan, bahwa membangun masa depan Sumenep tidak berarti meninggalkan akar budayanya," pungkasnya. ***

