Hasil produknya, kata Faruq, kemudian diarahkan untuk dikemas secara menarik agar memiliki nilai jual lebih tinggi.

"Dengan sentuhan teknologi dan pelatihan seperti ini, bawang merah bisa diolah dan dikemas dengan baik. Dari yang sebelumnya sekitar Rp40.000 per kilogram, ketika sudah menjadi produk olahan bisa memiliki nilai jual hingga sekitar Rp200.000," Jelas dia.

Menurutnya, pelatihan selama tiga hari itu tidak hanya memberikan materi secara teori. Peserta juga mengikuti praktik pengolahan hingga pemasaran produk.

Faruq menegaskan, program Santri Entrepreneur tidak berhenti setelah pelatihan selesai. 

Pemerintah daerah akan melakukan pendampingan dan pemantauan agar para peserta mampu mengembangkan usahanya hingga menjadi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

"Santri-santri kita ingin dibuat berdaya. Hari ini kami juga membantu beberapa alat berbasis teknologi dan bahan baku. Setelah berkembang, kami akan terus memantau sampai mereka menjadi UMKM, bahkan memiliki usaha seperti angkringan," ucapnya.

Dia menyebut keberlanjutan program tersebut telah menunjukkan hasil. Beberapa peserta pelatihan pada 2025, misalnya, telah mulai mengembangkan usaha setelah mengikuti program kewirausahaan santri.

"Ada santri yang membuka angkringan saat acara Madura Culture Festival (MCF). Kemudian ada juga dari Bulutoh yang sukses menjadi pengusaha batik. Ini menjadi bukti bahwa program wirausahawan santri dapat berkelanjutan dan tidak hanya berhenti pada pelatihan," ungkapnya.

Faruq menjelaskan pelatihan itu  juga melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah dan lembaga terkait. 

Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Perdagangan (DKUPP) berperan dalam aspek pemasaran. Sementara sektor perbankan, termasuk BPRS Bhakti Sumekar, mendukung dari sisi permodalan.