Menurut Syamsuri, setiap lokasi memiliki sasaran pemeriksaan sekitar 100 orang. Pemeriksaan dilakukan sebagai upaya menemukan kasus TBC sedini mungkin.
“Dari hasil pemeriksaan ini, kami lebih menekankan pada deteksi dini. Jadi ada upaya lebih awal untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan kasus TBC di Kabupaten Sumenep,” tegasnya.
Syamsuri mengungkapkan, berdasarkan laporan yang diterima Dinkes selain melalui puskesmas, penemuan kasus TBC juga terdapat dari rumah sakit.
Di Kabupaten Sumenep, kata dia, terdapat 31 puskesmas dan empat rumah sakit yang menjadi bagian dari jejaring pelayanan TBC.
Empat rumah sakit tersebut yakni RSUD dr Moh Anwar, Rumah Sakit Islam (RSI) Garam Kalianget, Rumah Sakit Sumekar, dan Rumah Sakit Baghraf Health Care (RS BHC) Sumenep yang merupakan rumah sakit baru di Kabupaten Sumenep.
Syamsuri mengatakan, jumlah kasus yang ditemukan di masing-masing rumah sakit berbeda.
Rumah Sakit Garam Kalianget menjadi salah satu fasilitas kesehatan dengan temuan kasus terbanyak, yakni 89 kasus.
“Yang paling banyak ditemukan di Rumah Sakit Garam Kalianget, mencapai 89 kasus. Yang lainnya ada sekitar 70 kasus, 60 kasus, dan 30 kasus. Bahkan ada rumah sakit yang belum menemukan atau melaporkan kasus,” ucapnya.
Syamsuri juga menjelaskan, TBC merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Karena itu, munculnya penyakit tersebut bukan disebabkan oleh pola makan seseorang.
“Penyebab TBC adalah infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis, bukan karena pola makan,” jelasnya.

