Di Desa Pagerungan Besar, jumlah anak yang sebelumnya teridentifikasi mengalami stunting mencapai 11 anak. Pada periode Januari hingga Agustus 2026, jumlah tersebut tercatat menjadi enam anak. Dari jumlah itu, dua anak tercatat mengalami gizi buruk.

Sementara di Pagerungan Kecil, jumlah anak stunting sebelumnya mencapai 15 anak. Hingga Agustus 2026, tercatat lima anak mengalami stunting. Adapun data mengenai kasus gizi buruk masih membutuhkan pelengkapan dan konfirmasi lebih lanjut.

Penurunan jumlah kasus tersebut tetap membutuhkan pemantauan berkelanjutan. Pencegahan stunting tidak hanya berkaitan dengan penanganan anak yang telah mengalami gangguan pertumbuhan.

Konsistensi keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi, menerapkan pola pengasuhan yang baik, serta memantau kesehatan dan pertumbuhan anak juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan hasil penanganan.

Camat Sapeken Hamka mengatakan, Program Pengembangan Masyarakat (PPM) SKK Migas–KEI memberikan dukungan terhadap peningkatan layanan kesehatan masyarakat di wilayah kepulauan.

“Program PPM ini sangat membantu di tengah kondisi efisiensi anggaran Dana Desa di Kepulauan Sapeken. Kita perlu bersyukur karena KEI berkomitmen menyediakan ruang edukasi berupa pelatihan untuk kader Posyandu,” kata Hamka, Selasa (22/9/2026).

Menurut Hamka, kolaborasi KEI dengan Puskesmas Pagerungan Besar turut membantu penguatan layanan kesehatan masyarakat, termasuk dalam pencegahan dan penanganan stunting.

Ia berharap para kader dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Semoga para kader tetap semangat memberikan pelayanan terbaik di tengah masyarakat,” ujarnya.

Hamka menilai kader Posyandu memiliki peran strategis karena berinteraksi langsung dengan masyarakat. Mereka dapat menjadi penghubung antara keluarga dan tenaga kesehatan, terutama dalam memastikan ibu hamil serta balita memperoleh pemantauan secara rutin.