
Sementara itu, Prengky Wirananda menyampaikan materi bertema “Melek Media”. Ia mengajak para guru memahami karakter media sekaligus mengenali praktik yang dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap profesi wartawan.
Prengky secara khusus mengingatkan para guru agar tidak memberikan uang kepada oknum yang mengaku wartawan dan menggunakan profesinya untuk menekan atau menakut-nakuti narasumber.
"Jika ada oknum yang mengatasnamakan wartawan, bentak-bentak seperti penyidik, lalu ujung-ujungnya minta duit, mohon agar tidak dikasi. Karena itu akan menular kepada teman-teman mereka yang lain," pintanya kepada para guru yang menjadi audiens.
Menurut Prengky, kehadiran SMSI bersama para guru juga menjadi bagian dari upaya memberikan pemahaman mengenai kerja pers sekaligus meluruskan anggapan keliru tentang profesi wartawan.
"Visi misi kami hadir bersama para guru di sini, selain untuk berbagi wawasan terkait literasi dan jurnalisme, adalah untuk meluruskan isu-isu miring itu, bahwa wartawan tidak demikian. Kita datang menemui narasumber tidak lain semata untuk melakukan wawancara atau konfirmasi, tidak lebih dari itu, tidak seperti yang menjadi anggapan masyarakat tentang wartawan," imbuhnya.
Ia juga membahas tugas pers, kode etik jurnalistik, serta pentingnya sopan santun jurnalis saat melakukan peliputan dan wawancara.
Guru Produktif
Pengawas Sekolah Wilayah Kerja Kalianget, H. Abd. Aziz, M.Pd., mengajak seluruh peserta mengikuti pelatihan dengan serius.
Ia mendorong guru tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menghasilkan tulisan dan informasi yang baik.
“ikuti kegiatan ini dengan baik. Guru bisa belajar menulis dan membuat informasi dari para jurnalis,” ujarnya.

