Cerpen: Sang Pemuja
Api yang Membakar
Dua minggu telah berlalu sejak pertemuanku yang terakhir dengan Octa. Waktu yang kupikir akan membantuku melupakan dirinya justru membawaku ke dalam perasaan yang semakin dalam, semakin sulit kubendung.
Siang dan malam, bayangannya menghantui pikiranku, seperti api yang terus menyala, membakar pelan-pelan kesadaranku. Aku tahu, ini bukan perasaan yang sehat. Namun, semakin aku berusaha melupakan, semakin kuat perasaan itu menghantamku.
Di tengah kesibukan pekerjaanku, pesan-pesan dari sahabatku terus berdatangan, menasehatiku agar segera menjauh dari semua ini. Aku tahu dia benar. Tapi aku merasa ada yang belum selesai—pertemuan singkat dengan Octa, dengan segala kerumitan hidupnya, seolah meninggalkan tanda tanya besar dalam hidupku.
Satu malam di bulan Oktober, ketika udara mulai dingin dan hujan deras mengguyur jalanan kota, aku duduk di apartemenku, menatap kosong ke arah jendela. Ponsel di meja bergetar, menyala dengan nama Octa di layarnya. Pesan yang tak pernah kuduga.
"Mas, bisakah kita bertemu? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan."
Aku terdiam sejenak, jantungku berdegup kencang. Aku tahu, ini mungkin bukan langkah yang bijak. Namun, keinginan untuk melihatnya lagi—untuk mendapatkan jawaban—terlalu kuat untuk diabaikan. Aku mengetik balasan singkat.
"Di mana?"
Tak lama, balasan datang. "Tempat yang sama, pukul 9."
---
[video width="720" height="1280" mp4="https://dimadura.id/assets/img/uploads/2024/10/Video-Ilustrasi-Seri-Cerpen-Octa-Bagian-5-Sumber-Pinterest-@Double.PHOTO_.Art_.-Video.mp4"][/video]Hujan belum berhenti saat aku tiba di klub. Suasana malam itu tidak seramai biasanya. Aku masuk dan langsung mencarinya di tempat biasa, tapi kali ini Octa tak terlihat. Jantungku berdegup semakin cepat, entah karena rasa gugup atau firasat buruk yang tak dapat kuabaikan. Aku berjalan menuju meja bar dan bertanya pada bartender.