Aku merasakan dilema besar membelit pikiranku. Di satu sisi, aku ingin menolongnya, membebaskannya dari situasi ini. Di sisi lain, aku tahu bahwa jika aku terlalu terlibat, aku mungkin tak akan bisa melepaskan diri dari lingkaran ini.

Namun, melihat sorot mata Octa yang begitu penuh keputusasaan, aku tak bisa mengabaikannya. Mungkin inilah api yang membakarku—perasaan ingin menolong, bahkan ketika aku tahu itu bisa menghancurkanku.

Aku menghela napas panjang. "Baik, aku akan membantumu. Tapi aku ingin kau berjanji padaku satu hal."

Dia menatapku, sedikit terkejut. "Apa itu?"

"Kau harus meninggalkan tempat ini. Jangan kembali lagi. Dan jika kau butuh bantuan, aku akan ada di sini, tapi aku tidak bisa terus-menerus menolongmu."

Octa terdiam, lalu mengangguk pelan. "Aku berjanji, Mas."

Dengan itu, aku meninggalkan kamar dan keluar dari klub, menatap langit yang masih diguyur hujan deras. Perasaan lega dan cemas bercampur jadi satu. Aku tahu, ini mungkin bukan akhir dari masalah. Ini mungkin hanya permulaan dari sesuatu yang lebih besar. Tapi aku sudah membuat keputusan, dan aku harus menanggung semua konsekuensinya.

---

Di apartemenku, aku menatap layar ponsel, mencari-cari nama seorang teman yang mungkin bisa membantuku menyelesaikan urusan ini dengan cepat. Uang bukan masalah, tapi bagaimana aku akan menjalani hari-hari ke depan, setelah semua ini berakhir?

Tak lama kemudian, pesan dari Octa muncul di layarku.