"Octa, apa yang kau inginkan dariku?"
Dia terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Mas. Aku... aku berhutang besar. Dan mereka tidak akan membiarkanku pergi sampai aku membayar semuanya."
Aku merasakan darahku berdesir. "Siapa mereka?"
Octa menunduk, tidak ingin menatapku. "Orang-orang yang mengendalikan tempat ini. Aku sudah terjebak dalam lingkaran ini terlalu lama, Mas. Awalnya hanya pekerjaan biasa... tapi hutang-hutang itu datang dan semakin besar. Aku tak punya jalan keluar."
Aku merasa seperti ditarik ke dalam situasi yang lebih dalam dan lebih gelap dari yang pernah kubayangkan. Ini lebih dari sekadar perasaan. Ini adalah hidup yang dipertaruhkan.
"Apa yang bisa kulakukan untuk membantumu?" tanyaku, walaupun aku tahu, menawarkan bantuan seperti ini akan membawaku lebih dalam ke dalam masalahnya.
Octa menatapku dengan mata yang penuh keputusasaan. "Mereka ingin aku membayar 50 juta rupiah, secepatnya. Jika tidak, aku tidak akan pernah bisa keluar dari sini."
Aku terdiam. Jumlah itu memang tidak besar bagiku, tapi masalahnya bukan pada uang. Masalahnya, jika aku menolongnya kali ini, apa artinya bagi hubungan kami? Apakah ini hanya akan memperpanjang keterikatanku dengan dunia kelam yang dia jalani?
"Apa kau yakin ini satu-satunya cara?" tanyaku, mencoba mencari alternatif yang mungkin bisa kami ambil.
Dia mengangguk pelan. "Aku sudah mencoba segalanya, Mas. Aku bahkan hampir... hampir melakukan hal yang lebih buruk dari ini. Tapi aku tak bisa. Aku tak bisa terus seperti ini."