"Octa ada di sini?"
Bartender itu menatapku sebentar, lalu menggeleng pelan. "Dia di lantai atas, kamar 207."
Aku mengerutkan kening, sedikit heran. Sejak kapan Octa memiliki kamar di sini? Tapi tanpa banyak berpikir lagi, aku berjalan menuju tangga, naik ke lantai atas dengan langkah yang semakin cepat. Ketika tiba di depan pintu kamar 207, aku mengetuk pelan.
"Octa?"
Tak ada jawaban.
Aku mengetuk lagi, kali ini lebih keras. Pintu itu tiba-tiba terbuka sedikit, dan aku mendorongnya perlahan. Di dalam, Octa duduk di tepi ranjang, memandangi lantai dengan tatapan kosong. Ketika dia mendengar suaraku, dia mengangkat kepala, menatapku dengan mata yang tak lagi secerah biasanya.
"Mas Nanda..." ucapnya pelan, suaranya terdengar serak.
Aku menutup pintu di belakangku dan mendekatinya. "Apa yang terjadi? Kau terlihat... berbeda."
Dia tidak menjawab segera, hanya menatapku sejenak sebelum akhirnya menarik napas dalam-dalam. "Aku butuh bantuanmu, Mas."
Kata-katanya seperti petir yang menyambar di tengah hujan. Aku tidak tahu apa yang kuharapkan dari pertemuan ini, tapi permintaan ini... membuatku kaget sekaligus curiga.