Tasyakuran YPSBK Madura atas Amnesti Presiden, Darul Hasyim Fath: Republik Telah Menunaikan Janjinya
NEWS SUMENEP, DIMADURA – Yayasan Pusat Studi Bung Karno (YPSBK) Madura menggelar acara Tasyakuran dan Doa Lintas Iman, Selasa (5/8) malam, di Kafe Tanean, Kebunan, Sumenep.
Acara ini digelar sebagai bentuk syukur atas keputusan Presiden Prabowo Subianto yang memberikan amnesti kepada sejumlah tokoh, termasuk mantan Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto.
Mengangkat tema “Memperjuangkan Keadilan dan Persatuan Nasional”, acara ini berlangsung penuh semangat nasionalis dan kebersamaan antariman.
Hadir sejumlah tokoh penting, mulai dari KH Fauzan Malik, Romo Cornelis, budayawan nasional D. Zawawi Imron, hingga Ketua Fraksi Gerindra DPRD Sumenep, Holik. Dubes RI untuk Tunisia, Zauhairi Misrawi, juga hadir dalam kesempatan ini.

Darul Hasyim: Ini Malam untuk Republik
Ketua Fraksi PDIP DPRD Sumenep sekaligus Pembina YPSBK, Darul Hasyim Fath, menyampaikan sambutan hangat dan penuh makna nasionalisme.
“Alasan negeri ini merdeka, itulah alasan kenapa kita merawat pertiwi ini atas nama cita-cita bersama,” ujar Darul dengan lantang, memantik hadirin meneriakkan yel-yel “Merdeka!”
Ia menyebut bahwa malam itu bukan sekadar selebrasi pribadi atau partai, melainkan refleksi bersama tentang arti Republik.
“Ini malam bukan soal Hasto semata, bukan pula soal PDI Perjuangan. Ini malam adalah soal kemerdekaan, kedaulatan, dan kerakyatan yang masih menyala sebagai suluh harapan kita,” tegasnya.
Darul menyampaikan bahwa pemberian amnesti oleh Presiden Prabowo adalah bentuk nyata dari penegakan keadilan yang menghidupkan kembali harapan bagi anak bangsa.
Doa Lintas Iman dan Dedikasi untuk Tanah Air
Doa lintas iman dipanjatkan secara bergantian oleh KH Fauzan Malik dari kalangan Muslim, lalu dilanjutkan oleh Romo Cornelis dari Katolik. Momentum spiritual ini terasa khidmat, mempertemukan perbedaan dalam semangat persatuan.
Puncaknya adalah saat Difo, perwakilan pemuda, membacakan teks Dedication of Life karya Ir. Soekarno, sebagai pengingat nilai-nilai pengabdian yang hakiki dalam hidup berbangsa:
Dedication of Life – Ir. Soekarno
“Saya sebagai manusia biasa, saya tidak luput dari kekurangan dan kesalahan. Hanya kebahagiaanku ialah, mengabdi kepada Tuhan, kepada Tanah Air, kepada Bangsa. Itulah dedication of life-ku. Jiwa pengabdian inilah yang menjadi falsafah hidupku, dan menikmati serta menjadi bekal dalam seluruh gerak hidupku. Tanpa jiwa pengabdian ini, saya bukan apa-apa. Tetapi dengan jiwa pengabdian ini, saya merasakan hidupku bahagia dan manfaat.” (Ir. Soekarno, 10 September 1966)
Teks tersebut menggema dalam gelap hening ruangan, menggetarkan hati para hadirin yang larut dalam semangat pengabdian universal.
Simbol Lilin: Suluh Keadilan di Tengah Gelapnya Harapan

Sebagai penanda simbolik, lilin-lilin dinyalakan bersama-sama oleh tokoh lintas iman. Menurut Darul, tindakan ini bukan semata seremoni, tapi makna mendalam tentang cahaya harapan.
“Rasanya keadilan itu adalah suluh keadaan yang kita harapkan. Di tengah gelapnya harapan, masih ada secercah cahaya,” ujarnya usai acara.
Ia menambahkan, Hasto Kristiyanto dan Tom Lembong menjadi simbol bahwa negara ini masih mungkin memberi ruang pada keadilan dan kejujuran politik.
“Simbol lilin tadi menyiratkan bahwa makna berbangsa dan bernegara harus disemai kembali, agar tiada lagi janji republik yang diingkari,” pungkasnya.
Orasi Kebangsaan dan Tumpeng Persatuan
Acara semakin syahdu dengan orasi kebangsaan dari Zuhairi Misrawi, Duta Besar RI untuk Tunisia, serta Sastrawan D. Zawawi Imron. Keduanya memberikan refleksi mendalam tentang pentingnya menjaga ruh konstitusi dan nilai-nilai Pancasila.
Sebelumnya, dilakukan pemotongan tumpeng oleh Darul Hasyim Fath, yang diserahkan kepada KH Fauzan Malik dan Romo Cornelis sebagai simbol rasa syukur lintas iman. Tak lupa, santunan anak yatim diserahkan oleh Pembina YPSBK, Nur Faisal MH.
Prabowo dan Keppres Amnesti: Harapan yang Menyala
Sebagaimana diketahui, Presiden Prabowo Subianto telah menandatangani Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 2025, yang memberikan amnesti kepada 1.178 narapidana, termasuk Hasto Kristiyanto dan Sugi Nur Raharja alias Gus Nur.
Keputusan ini menjadi sorotan karena menyentuh banyak figur dari latar politik dan hukum yang beragam.
Bagi YPSBK Madura, keputusan ini bukan hanya soal hukum, tapi menyangkut keadilan dan janji negara terhadap rakyatnya. Dan malam tasyakuran ini menjadi ruang spiritual dan kebudayaan untuk merayakan secercah harapan itu.***
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow






