dimadura
Beranda Gardu Sejarah Ternyata Walisongo di Pulau Jawa Ada 33, Tiga di Madura

Ternyata Walisongo di Pulau Jawa Ada 33, Tiga di Madura

Ternyata walingoso di Pulau Jawa ada 33, 3 di antaranya ada di Madura (Doc. Dimadura)

Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1SEJARAH, DIMADURA – Nama Walisongo selama ini dikenal luas sebagai sembilan wali penyebar Islam di Pulau Jawa. Namun catatan sejarah menyimpan fakta berbeda. Budayawan Madura, Tadjul Arifien R, menegaskan jumlahnya jauh lebih banyak.

“Walisongo di Pulau Jawa total 33 orang, yang hidup dalam beberapa periode. Mereka yang hidup di era Sunan Ampel adalah periode ketiga,” jelasnya, Jumat (19/9/2025).

Fakta itu sekaligus menegaskan bahwa jejak Walisongo juga sampai ke Pulau Madura pada abad ke-15 hingga ke-16.

“Walisongo juga ada yang bersyiar ke Madura yang hidup pada abad XV–XVI,” ujar Tadjul. Ada tiga nama yang tercatat:

Pertama, Sunan Paddusan (Raden Bendoro Dwiryopodho) di Sumenep, cucu Sunan Manyuran Mandalika. Dalam catatan Tadjul, sebelum bersyiar ke Lombok, Sunan Manyuran singgah di Sepudi menemui Panembahan Wirakrama.

Dari perjumpaan itu, ia membawa sepasang sapi yang kemudian diyakini menjadi asal-usul kesamaan sapi Lombok dan sapi Madura. “Ciri-cirinya berbulu kuning emas, ramping, kuat, dengan daging gurih dan sedikit manis,” urainya.

Sementara Sunan Paddusan, lanjut Tadjul, berbeda dengan Khotib Paddusan (Sayyid Ubaidillah bin Sayyid Ahmad Baidhawi, Pangeran Katandur).

Kedua, Sunan Cendana (Sayyid Zainal Abidin) di Bangkalan, cucu Sunan Ampel. Tokoh ini disebut berhubungan dengan garis keturunan ulama besar di Bangkalan.

“Mungkin beliau yang menurunkan Syaikhona Kholil atau yang menurunkan para kiai/ulama di Bangkalan,” katanya.

Ketiga, Sunan Kertayasa (Sayyid Husein) di Sampang, suami Nyi Ageng Tondho binti Sunan Lembayung Fadhal.

Sunan Kertayasa menurutnya masih kerabat Sunan Ampel, yang diyakini sebagai leluhur para kiai Parajjan di Camplong maupun ulama Sampang.

“Mungkin beliau yang menurunkan para kiai Parajjan (Camplong) atau yang menurunkan kiai/ulama di Sampang,” reka Tadjul.

Selain ketiga nama tersebut, sambung dia, Madura juga mengenal sosok penting seperti Sayyid Ahmad Badhawi atau Pangeran Katandur di Sumenep, cucu Sunan Kudus. Dari beliau banyak menurunkan para ulama atau kyai di Sumenep.

Meski hidup di abad ke-17 sehingga tidak termasuk dalam lingkar Walisongo, ia dikenal berjasa memperkenalkan teknik pertanian padi dengan sistem bendungan serta melahirkan tradisi kerapan sapi yang melegenda.

Tadjul juga menguraikan makna istilah Sunan yang sering diperdebatkan. “Sunan berasal dari kata susuhunan, asal kata suhu bahasa Cina yang artinya guru. Orang Jawa bilang Sunan berasal dari bahasa Jawa, maksudnya suhun (sunggi) atau yang dijunjung,” terangnya.

Sebagai catatan tambahan, Tadjul menyebut sembilan tokoh yang masuk dalam Walisongo periode ketiga (era Sunan Ampel). Mereka adalah:

1. Sunan Gresik
2. Sunan Ampel
3. Sunan Bonang
4. Sunan Drajat
5. Sunan Giri
6. Sunan Kudus
7. Sunan Kalijaga
8. Sunan Muria
9. Gunung Jati

Keterangan Tadjul Arifien R ini memperlihatkan bahwa Walisongo bukan hanya sembilan nama populer, melainkan jaringan 33 wali yang peranannya meluas hingga ke Madura.

Mereka meninggalkan warisan tak hanya berupa syiar agama, tetapi juga jejak kebudayaan dan tradisi yang masih hidup hingga kini.***


Sumber:

Kitab Al Faqier Mujahidun at-Tarikhul Auliyak, 1951, Bisri Mustofa
Kitab Hidmatil Asyira, Syekh Ahmad bin Abdullah as-Segaff
Sedjarah TPDK Madura, 1951, Zainalfattah
Madura Selayang Pandang, 1971, Drs Abdurrahman
dan lain sebagainya

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan