SUMENEP, DIMADURA — Tekanan terhadap saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) masih berlanjut. Berdasarkan data perdagangan yang ditampilkan Google Finance pada Jumat (19/6/2026) pukul 11.15 WIB, saham BBRI berada di level Rp2.930 per lembar atau turun 3,62 persen dalam sebulan terakhir.
Angka tersebut menunjukkan bahwa saham BBRI masih tertahan di bawah level psikologis Rp3.000 per saham yang selama ini menjadi salah satu batas penting yang diperhatikan pelaku pasar.
Data yang sama menunjukkan harga saham BBRI saat ini berada jauh di bawah level tertinggi 52 minggu yang pernah mencapai Rp4.270 per saham.
Meski masih berada di atas titik terendah tahunan Rp2.540, koreksi yang terjadi mencerminkan adanya kehati-hatian pasar terhadap prospek emiten perbankan tersebut.
Di sisi lain, BBRI tetap memiliki fundamental yang tergolong kuat. Kapitalisasi pasarnya masih mencapai sekitar Rp439,63 triliun dengan dividend yield sebesar 11,77 persen, rasio price to earnings (P/E) 7,57 kali, serta volume perdagangan harian yang tetap tinggi.
Namun dalam dunia perbankan modern, kekuatan angka-angka keuangan bukan satu-satunya faktor yang diperhatikan publik dan investor.
Reputasi, tata kelola perusahaan, kepatuhan terhadap prinsip kehati-hatian, serta kepercayaan nasabah menjadi elemen yang tak kalah penting.
Dalam konteks itulah, perhatian publik terhadap perkara dugaan kredit bermasalah yang sedang bergulir di Pengadilan Negeri Sumenep terus meningkat.
Persidangan yang menyeret mantan teller BRI Cabang Sumenep, Novia Arvianti, belakangan mengungkap sejumlah fakta yang memantik diskusi publik mengenai pengawasan internal dan perlindungan nasabah.
Salah satu kesaksian yang menyita perhatian datang dari Siti Aisah, istri Abdul Hamid, yang mengaku menjadi korban dalam perkara tersebut.
