Warga Pinggirpapas Murka, Festival Garam Disebut Pesta yang Merampok Tradisi
NEWS SUMENEP, DIMADURA – Warga Desa Pinggirpapas menumpahkan kemarahan mereka atas Festival Garam yang digelar Minggu (21/9/2025) malam di Kabupaten Sumenep, Madura.
Syamsul Hadi ST, salah satu pemuda Pinggirpapas, menyebut banyak sesepuh dan petani tidak diundang dalam penyelenggaraan.
Menurut dia, acara itu tidak lebih dari pesta pora seremonial yang justru merampok tradisi karena tidak melibatkan pihak-pihak penting di daerah setempat.
“Tokoh masyarakat dan sesepuh itu banyak yang tidak diundang atau tidak dilibatkan. Para petani pun juga tidak diundang. Seolah-olah itu hanya seremonial di situ,” ujarnya, Senin (22/9/2025).
Lagu Mbah Anggasuto yang ditampilkan di Festival Garam juga dianggap tidak menghormati keturunan dan pewaris tokoh setempat.
“Beliau (Mbah Anggasuto, red) itu dijadikan lagu. Tidak menghormati lah kami sebagai cucu-cucunya, pewarisnya, terus para sesepuh dan tokoh masyarakat. Pemuda juga tidak dilibatkan terkait festival itu,” ungkap Syamsul.
Menurutnya, festival itu justru menunjukkan sikap abai terhadap kondisi efisiensi anggaran yang ditekankan pemerintah pusat.
“Intinya secara tidak langsung habis-habiskan anggaran aja ya. Di tengah efisiensi malah menghambur-hamburkan uang,” tegasnya.
Syamsul juga menyinggung imbauan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian yang meminta kepala daerah menunda kegiatan seremonial.
“Kementerian Negeri sudah memberi arahan. Jangan ada seremoni dengan adanya efisiensi, tapi Sumenep masih ngotot. Dengan adanya event-event yang menghamburkan uang, saya sangat menyayangkan,” katanya.
Sementara itu, Humas PT Garam, Miftahul Arifin, membantah bahwa acara tersebut merupakan kegiatan perusahaan. “Itu acara Disparbud, bukan acaranya PT Garam,” jelasnya.
Ia bahkan mengaku tidak menghadiri acara tersebut. “Kebetulan untuk itu saya tidak bisa datang, ada maulid di tetangga, ternyata itu Festival Garam,” imbuhnya.
Saat ditanya apakah PT Garam diminta kontribusi dalam festival ini, ia meminta agar hal tersebut ditanyakan langsung ke Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar).
“Kalau itu coba tanya ke Disparbud saja, itu yang tahu kepala pegaramannya, yang punya wilayah,” ucapnya.
Kritik publik terhadap Festival Garam semakin tajam karena berbarengan dengan sorotan lama soal banjir musiman di jalan poros Sumenep.
Mei lalu, Bupati Achmad Fauzi sempat menegur PT Garam karena dianggap tidak serius dalam menangani persoalan banjir. Bahkan warga Patean dan Nambakor kerap menghadapi genangan setinggi lutut orang dewasa setiap musim hujan.
Hingga berita ini tayang, Kepala Disbudporapar Sumenep, Moh. Iksan belum menanggapi upaya konfirmasi media ini.***
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow





