dimadura
Beranda Okara Kolom “Wartawan Bukan Tukang Tulis!”

“Wartawan Bukan Tukang Tulis!”

Ibnu Hajar | Wartawan Senior PWI Sumenep | Ilustrasi/Doc. Dimadura

Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1KOLOM, OKARA DIMADURA – Hari ini, 3 Mei, dunia kembali menyalakan lilin untuk memperingati Hari Kebebasan Pers. Tapi lilin tak cukup untuk menerangi gelapnya marwah jurnalisme yang mulai memudar di tengah gegap gempita dunia digital.

Saya ingin bicara dari sudut pandang seorang wartawan tua—yang barangkali sudah tidak terlalu lincah mengejar narasumber, tapi masih resah menyaksikan kenyataan.

Di Indonesia, jurnalis adalah pilar keempat demokrasi. Tapi di lapangan, tak sedikit dari kita menjelma sekadar operator keyboard. Menulis ya menulis saja, tanpa ruh, tanpa arah.

Padahal, menjadi wartawan bukan sekadar tahu membuat lead. Lebih dari itu, paham etika, menguasai kode etik jurnalistik, dan tak abai pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999.

Kalau itu saja tidak kita pegang, jangan heran bila wartawan kerap jadi bahan gunjingan. Ada berita framing. Ada berita pesanan. Bahkan, kadang—maaf—jadi alat kepentingan.

Itulah kenapa saya bilang: wartawan bukan tukang tulis. Ia pendidik. Ia penyaring. Ia penjaga akal sehat publik.

Sumenep hari ini dipenuhi media—media cetak, online, elektronik—dan wartawan ratusan jumlahnya. Tapi apa gunanya kuantitas jika tak sebanding kualitas? Media boleh banjir, tapi kalau isinya cuma soal sensasi, itu bukan edukasi.

Kita butuh wartawan yang mau menyuguhkan berita faktual, akurat, yang diramu dengan metode jurnalisme paling mendasar: 5W 1H. Bukan opini bertudung fakta.

Saya juga ingin bicara pada birokrasi. Jangan lihat wartawan dengan sebelah mata. Kami bukan musuh, kami mitra. Kalau ada wartawan datang ingin investigasi, jangan dihalangi. Beri ruang bagi kerja-kerja jurnalistik yang bertanggung jawab.

Masyarakat pun perlu tahu: wartawan bukan ancaman. Ia bukan momok yang datang dengan maksud buruk. Ia datang membawa informasi, membawa harapan.

Kini, media sosial sudah menyelinap ke ruang-ruang privat. Siapa pun bisa jadi penyebar informasi. Tapi di sinilah tantangan kita: jangan sampai berita yang kita sajikan kalah mutu dari unggahan iseng di Facebook.

Saya tidak pesimis. Masih banyak wartawan muda yang saya percaya bisa membawa bara jurnalisme tetap menyala. Tapi mereka perlu diingatkan: jangan kehilangan arah. Jangan kehilangan marwah.

Di Hari Pers Sedunia 2025 ini, mari kita kembali ke jurnalisme yang jernih. Yang tidak hanya mengabarkan, tapi juga mencerahkan. Yang tidak hanya cepat, tapi juga tepat. Dan yang tidak hanya menulis, tapi memahami: bahwa setiap kata yang kita tayangkan, adalah pertaruhan bagi kepercayaan publik.

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan