Tetapi persoalan muncul ketika puisi bergerak terlalu cepat dari satu metafor ke metafor lain: badai, hujan, genangan, payung, air mata, wadah, pintu, kapal karam, pelabuhan, lentera, dermaga.

Metafornya banyak. Terlalu banyak, dan, sebagian terasa seperti kosakata puitik yang sudah terlalu sering digunakan.

Kuntowijoyo pernah merumuskan sastra sebagai “strukturalisasi dari pengalaman, imajinasi, dan nilai.”

Dalam pandangan itu, pengalaman tidak cukup dipindahkan begitu saja ke dalam teks. Ia harus mengalami pengolahan imajinatif dan memperoleh bentuk yang koheren.

Di sinilah “Ibu Pertiwi” menghadapi persoalan. Pengalaman kepemimpinan Fauzi sebenarnya sangat kaya, tetapi belum seluruhnya berhasil ditransformasikan menjadi pengalaman estetik yang khas.

Coba kita perhatikan larik selanjutnya berikut:

 

“Setiap orang datang membawa kantong hujan
Mereka menuangkan genangannya ke telapak tanganku
Lalu pergi dengan langit yang lebih cerah
Aku berdiri di sini basah sampai ke tulang-tulangku
Tapi tetap tersenyum.”

 

“Kantong hujan” sebenarnya menawarkan metafor yang menarik. Masyarakat datang membawa persoalan, menuangkannya kepada pemimpin, kemudian pergi dengan harapan yang lebih cerah.