Namun setelah hujan muncul genangan, lalu basah, kemudian payung, kemudian kapal karam dan pelabuhan. Imaji bergerak seperti kehilangan pusat.
Hujan ke genangan. Genangan ke basah. Basah ke payung. Payung ke laut. Laut ke kapal. Kapal ke pelabuhan.
Inilah yang bisa disebut kegalauan imaji: banyak benda puitik hadir tapi belum semuanya bekerja sebagai satu sistem imajinatif yang utuh. Padahal, ada satu baris yang sebenarnya sangat potensial.
“Karena siapa yang akan percaya bahwa payung pun bisa tenggelam.”
Payung sebagai pelindung yang ternyata bisa tenggelam merupakan pembalikan yang menarik. Pemimpin yang dianggap sebagai tempat berlindung ternyata memiliki batas.
Sayangnya, metafor tersebut tidak diberi cukup ruang untuk berkembang. Puisi segera berpindah ke “wadah yang rerak”, “pintu hati”, “pelabuhan”, “kapal karam”, dan “lentera”.
Di sinilah perbedaan antara menemukan metafor dan menggali metafor.
Penyair yang matang tidak selalu membutuhkan lebih banyak simbol. Ia justru tahu kapan sebuah simbol harus ditahan, didalami, bahkan dibiarkan menggantung agar pembaca menemukan lapisan maknanya sendiri.

