H.B. Jassin dan Kepekaan
Di sinilah pisau H.B. Jassin menjadi relevan. Kritik Jassin dikenal lebih mengutamakan kepekaan dan perasaan dalam menghadapi sastra daripada menjadikannya semata-mata perkara teori.
Kajian tentang metode kritik Jassin juga menunjukkan bahwa penilaiannya terhadap karya sastra berusaha melihat bahasa dan makna secara langsung, bukan berdasarkan kelas sosial atau kedudukan pengarang.
Dengan ukuran itu, puisi Fauzi justru perlu dibaca tanpa rasa sungkan karena ia seorang bupati.
Jabatan tidak boleh menjadi perisai estetika. Sebaliknya, jabatan juga tidak boleh menjadi alasan untuk menjatuhkan karya. Puisi harus dibaca sebagai puisi.
Dan jika dibaca dengan kepekaan itu, terasa bahwa “Ibu Pertiwi” mempunyai ketulusan, tetapi belum selalu memiliki ketajaman. Ia memiliki emosi, tetapi belum seluruhnya menemukan estetika. Ia memiliki metafor, tetapi belum semua metafor berhasil menjadi pengalaman yang baru.
Ada perasaan. Ada niat. Ada simbol. Tetapi belum selalu ada penemuan. Itulah persoalan yang lebih penting daripada sekadar bagus atau buruk.
Penyair dan Orang yang Menulis Puisi

