Kegalauan Empirik
Ada persoalan lain yang lebih menarik: kegalauan empirik.
Fauzi sebenarnya memiliki dunia pengalaman yang sangat kaya untuk ditulis. Ia memimpin wilayah yang terdiri atas daratan dan kepulauan.
Ia tentu pernah bertemu nelayan, petani, guru, birokrat, santri, mahasiswa, pedagang, tokoh masyarakat, warga pulau, warga pesisir, dan masyarakat desa.
Sebagai pejabat, ia pasti sering rapat, melakukan perjalanan, kunjungan, keluhan, perdebatan, keputusan, dan berbagai bentuk perjumpaan politik-administratif.
Itu semua adalah ladang metafor. Tetapi puisi ini justru lebih banyak menggunakan simbol universal: hujan, badai, air mata, kapal karam, pelabuhan, lentera. Akibatnya, puisi belum sepenuhnya memiliki sidik jari Sumenep.
Padahal pengalaman seorang Bupati Sumenep seharusnya memungkinkan lahirnya bahasa yang lebih khas: laut yang benar-benar ditempuh, pulau yang benar-benar didatangi, perahu yang benar-benar dinaiki, warga yang benar-benar ditemui, atau bahkan ruang-ruang pemerintahan yang setiap hari menjadi bagian dari hidupnya.
Kuntowijoyo menekankan pentingnya pengalaman, imajinasi, dan nilai dalam pembentukan sastra. Ia juga mengingatkan agar sastra tetap menjadi sastra, bukan sebatas konsep yang dipindahkan ke dalam bahasa.
“Ibu Pertiwi” mempunyai pengalaman dan nilai. Yang masih terasa kurang adalah transformasi pengalaman itu menjadi imaji yang benar-benar personal.

