SASTRA, DIMADURA – Senin pagi, 17 Agustus 2026, halaman Kantor Pemerintah Kabupaten Sumenep dipenuhi ratusan peserta pra-upacara HUT ke-81 Republik Indonesia.

Haura Bintany Lathifah, yang akrab disapa Bintan, tampil membawakan puisiIbu Pertiwikarya Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo. Suaranya mendapat tepuk salut dari ratusan peserta.

Di tangan Bintan, puisi itu memperoleh tubuh baru. Ia menjadi suara, menjadi pertunjukan, menjadi bagian dari suasana peringatan kemerdekaan. Tetapi setelah tepuk tangan reda, teks tetap harus kembali kepada dirinya sendiri: bahasa, imaji, metafor, diksi, dan pengalaman yang membentuknya.

Di situ, Ibu Pertiwi menarik sekaligus menyisakan sejumlah pertanyaan. Tapi di sini, Fauzi jangan dipandang hanya sebagai seseorang yang menulis puisi. Ia adalah Bupati Sumenep, orang nomor satu di daerah dengan bentang pengalaman sosial, budaya, politik, dan geografis yang sangat kaya.

Karena itu, menarik melihat bagaimana pengalaman seorang kepala daerah diterjemahkan menjadi pengalaman puitik.

 

“Senyum yang diberikan pada dunia
Aku belajar menyimpan badai di bawahnya
Membungkusnya dengan gula atau kata
Tak apa, aku baik-baik saja.”

 

Pembukaan ini cukup kuat. Ada pertentangan antara senyum dan badai. Wajah yang tampak tenang menyimpan sesuatu yang bergejolak.

Jika dikaitkan dengan Fauzi sebagai bupati, metafor itu cukup mudah menemukan konteks. Bahwa setiap hari, seorang kepala daerah tentu sering berhadapan dengan rapat, tuntutan warga, kritik, pelayanan, persoalan pembangunan, dan harapan yang datang dari berbagai arah.