Sebuah amplop hajatan menyimpan lebih dari sejumlah uang. Di dalamnya ada nama, nominal, ingatan, kehormatan, bahkan harapan untuk suatu hari menerima kembali.

 

PROFIL, DIMADURADari benda kecil itulah doktor muda asal Sumenep, Suaidi, yang kini mengabdi sebagai dosen tetap UIN Madura, menemukan pintu masuk untuk membaca hukum, agama, ekonomi, dan misteri hubungan sosial masyarakat Madura.

Amplop bagi banyak orang barangkali dilihat sebagai benda kecil yang sering berpindah tangan, seperti yang sering kita jumpai di tengah hajatan masyarakat Madura.

Ukurannya sederhana. Isinya mudah dihitung. Namun, di mata Suaidi, ketika nama dan nominal dicatat, menurutnya amplop itu seolah memiliki ingatan sendiri.

"Ia menyimpan jejak tentang siapa yang datang, berapa yang diberikan, dan pada suatu hari, siapa yang diharapkan datang kembali," katanya, saat diwawancara media ini soal makna amplop tompangan, Rabu (19/8/2026).

Di sinilah tradisi tompangan menjadi menarik perhatiannya.

Tradisi yang tampak biasa itu ternyata menyimpan pertanyaan yang rumit. Kapan pemberian tetap menjadi pemberian? Kapan ia berubah menjadi kewajiban? Apa yang terjadi ketika nominal dicatat dan diingat? Bagaimana kehormatan, gengsi, solidaritas, dan tekanan sosial bekerja di balik sebuah amplop?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membawa Suaidi, doktor muda kelahiran Sumenep, 2 Agustus 1985 itu, masuk lebih dalam ke salah satu tradisi sosial masyarakatnya sendiri.

Pada 18 Agustus 2026, perjalanan akademik itu mencapai salah satu penanda penting. Suaidi menyandang gelar doktor dengan IPK 3,91 dan mendapat pujian dari sejumlah penguji.