Bintan telah membuat “Ibu Pertiwi” terdengar di hadapan ratusan orang pada pagi kemerdekaan. Itu momen panggung yang patut diapresiasi.

Tetapi bagi Fauzi, pekerjaan sastra baru dimulai setelah panggung selesai. Sebab, tepuk tangan adalah milik pertunjukan. Sementara puisi adalah milik bahasa dimana ia tidak akan pernah tunduk kepada jabatan.

Barangkali Fauzi memiliki modal yang jauh lebih penting daripada sekadar keinginan menjadi penyair.

Fauzi tentu punya dunia pengalaman yang luas. Tinggal bagaimana dunia itu digali lebih dalam, lebih khas, lebih sunyi, dan lebih jujur.  Agar kelak, ketika orang membaca puisinya, mereka tidak berkata: "Ini puisi seorang bupati, melainkan, "Ini puisi Fauzi". ***