Riak-riak Asal Bukan Akis (ABA) dan Birahi Politik di DPD NasDem Sumenep
OKARA, DIMADURA – Riak-riak penolakan terhadap penunjukan Akis Jazuli sebagai Ketua DPD Partai NasDem Sumenep mulai bermunculan.
Catat ya, riak-riak, bukan gelombang. Soalnya, kalau disebut gelombang (sebagaimana ditulis beberapa media), sehingga kesannya besar banget, kayak tsunami politik. Padahal yang ini? Yah… mirip-mirip cipratan air pas cebok, rame tapi nggak bikin basah kuyup. Hemm….
Tapi, yang receh-receh begini justru sering punya cerita panjang. Sebab ini bukan kali pertama DPD NasDem Sumenep diseret dalam drama internal.
Sebelumnya, H. Hosni juga pernah kena “mosi tidak percaya” tahun 2024 lalu. Sama‐sama ditolak, beda alasan, beda skenario. Tapi aroma-aroma bumbu politiknya tetap satu rasa. Apa? Ya, intrik, dan rebutan kekuasaan.
Pertanyaannya: Apa ini kelanjutan dari serial “Mosi Tak Percaya Season 1”? Apakah ABA (Asal Bukan Akis) adalah spin-off dari gerakan anti-Hosni?
Bisa jadi. Bisa juga ini part baru yang naskahnya ditulis oleh sutradara yang sama, pemain yang sedikit beda, tapi ambisinya tetep sama jadi bos DPD partai.
Ya. Kalau dipikir-pikir, politik internal partai itu ibarat dapur restoran. Kelihatannya sih bersih di depan, padahal di belakang, kadang ada yang rebus air mata, goreng dendam, dan kukus ambisi.
Dalam istilah klasik, ini yang disebut “politik ke luar” dan “politik ke dalam”. Dan yang sedang ramai ini jelas-jelas “politik ke dalam”, ala wazni perebutan singgasana DPD partai.
Gerakan ABA pun rasanya nggak berdiri sendiri. Nggak mungkin dong ada riak-riak tanpa batu yang dilempar dan gak mungkin amat ada asap jika tak ada yang sedang bakar tungku. Ya, kan? Pasti ada yang “membackingi”. Siapa? Wallahu a’lam.
Tapi biasanya sih, yang ngebekingi adalah mereka-mereka yang juga kepingin duduk di kursi empuk Ketua DPD. Soal siapa tokohnya? Sabar. Nanti juga kelihatan waktu mainnya makin terbuka.
Politik itu kan bukan soal cepat-cepatan, tapi soal ketahanan nafas dan kelihaian blusukan di balik layar.
Yang lucu, sebagian penolak katanya siap mundur berjamaah. Waduh, dramanya kenceng! Seolah-olah tanpa mereka, NasDem Sumenep bisa bubar. Padahal… emangnya selama ini mereka ngapain aja? Lagian, kalaupun nggak mundur, belum tentu juga dipertahankan, kan iya?!
Bisa jadi malah sudah masuk daftar “pengurus yang akan diganti alias dibuang” versi Akis.
Jadi, kalau sekarang mundur, ya sebenarnya cuma mempercepat takdir saja. Lebih elegan, nggak usah disingkirkan secara paksa. Kan enak, keluar sambil tersenyum, meskipun hati mungkin perih.
Dan kayak biasanya, di partai politik manapun, pergantian ketua hampir selalu disusul dengan perombakan pengurus. Itu hukum alam. Siapapun ketuanya pasti ingin tim yang sejalan.
Jadi kalau ada yang mundur, bisa dibilang malah ngebukain jalan tol buat Akis masukin orang-orang pilihannya. Nggak perlu drama pemecatan, cukup ucapin, “Terima Kasih atas Pengabdian Anda Selama Ini” dan, bagi sutradara—jika Anda adalah politisi di struktural, siap-siaplah untuk diganti.
Jika anggota DPRD—kalau saya jadi Akis, siap-siap untuk dimarjinalkan, jika perlu, disngkirkan, reshufle. Tapi jika tidak ada, ini adalah kesalalahan fatal?
Ah! Zaman sekarang nggak ada yang tak salah: Audit Pokirnya dan Laporkan orangnya. Beres….. Buang! Tapi apa Akis setega itu? Sepertinya kagak mungkin.
Sekarang tinggal kita tunggu gimana gerak para petinggi DPD memainkan bidak-bidaknya: strategi siapa yang paling licin; siapa yang bisa nyodok dari belakang; dan siapa yang tiba-tiba muncul mengubah SK.
Politik lokal emang sering kayak sinetron, tapi yang nonton tetep banyak karena seru. Apalagi kalau diselipin bumbu saling intrik, saling buka-bukaan (apalagi telanjang), kan seru! Hee..
Sebagai rakyat biasa dan konstituen, kita sah-sah saja menilai. Bandingkan saja kapasitas, kualitas, dan integritas (dan—yep—”isi tas”) para tokoh-tokoh sentral DPD NasDem Sumenep. Siapa yang layak? Siapa yang cuma numpang tenar? Dan siapa yang pura-pura netral padahal punya ambisi ganda?
Akhirnya, riak-riak ABA ini bukan soal siapa ditolak, tapi siapa yang merasa cukup kuat untuk ditolak.
Kalau Akis nggak punya kans, ngapain repot-repot ditolak rame-rame? Sekarang pelatuk sudah di tangan Akis. Tinggal bidik. Tembak. Bereskan. Selesaikan, dan jangan lupa, RAPIKAN!
Good Jobs, Mas Akis!
SJ R. Samorano | Pegiat Kajian Sosial dan Hukum asal Guluk-guluk, Sumenep. Dosen aktif di STKIP dan beberapa kampus lainnya di Madura.
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow





