Kain Batik Khas Keraton Sumenep, Jejak Estetika Bangsawan Abad ke-17
Oleh: Tadjul Arifien R – Budayawan
BUDAYA, DIMADURA – Motif batik yang secara khusus digunakan oleh Raja Sumenep sejak abad ke-17 (era Pangeran Anggadipa hingga Dinasti Bindârâ Saot) dahulu banyak dipengaruhi oleh tradisi Keraton Mataram, meskipun Sumenep memiliki ciri khas tersendiri dengan motif nongeometris dan warna yang berani.
Di antaranya, motif yang populer di kalangan putri raja pada masa lalu adalah motif keppay (kipas), las-alasan, lèrès, tarpotè, dan pacènan. (Las-alasan mirip dengan sekar jagat).

Ciri khas batik Sumenep yang dipengaruhi keraton antara lain: motif kipas, yakni motif yang telah ada sejak tahun 1830-an dan banyak digunakan oleh para putri raja secara turun-temurun.

Motif non-geometris, yaitu batik Keraton Sumenep yang cenderung menampilkan ornamen yang mencerminkan lingkungan hidup, seperti gambar bunga, dedaunan, dan binatang darat, dengan warna-warna kuat seperti cokelat, merah, dan kuning.

batik kanḍhângan dengan motif berwarna alami. Corak ini menampilkan kekhasan ragam hias tradisional yang berpadu dengan pewarna alam, mencerminkan estetika batik klasik yang berkembang di lingkungan keraton sumenep. (doc. Dimadura. Id)
Motif ayam, salah satu motif tradisional khas batik tulis Sumenep, dengan warna merah sebagai ciri utama batik Madura pada umumnya.
Secara umum, batik Keraton Sumenep tumbuh dan berkembang melalui pengaruh budaya keraton, namun kemudian berkembang menjadi batik tradisional dengan ciri khas lokal yang berbeda dari daerah lain di Jawa.
Setelah era kolonial Belanda, banyak motif batik Jawa masuk ke Keraton Sumenep, seperti batik Kawung, Pekalongan, Sidomukti, Solo, Parang, dan lain sebagainya. Sementara itu, batik bermotif lokal (Keraton Sumenep) yang asli kini sudah semakin sulit ditemukan.

manuskrip tentang jenis-jenis kain yang masuk dan digunakan di lingkungan keraton songennep pada masa pemerintahan sultan abdurrahman. Naskah ini menjadi bukti historis keterkaitan antara budaya tekstil, kekuasaan, dan dinamika estetika di lingkungan keraton. (tadjul arifien r. /doc. Dimadura. Id)
Dahulu, yang membatik adalah para putri raja, karena seluruh putri dipingit dan tidak diperkenankan keluar dari lingkungan keraton. Sehingga itu, membatik menjadi kegiatan untuk menghilangkan kejenuhan.
Pengetahuan tersebut kemudian dibawa oleh para dayang atau emban ke desa-desa, hingga akhirnya ditiru dan berkembang di tengah masyarakat.
Karena para emban atau dayang yang membantu serta melayani para putri raja juga turut membatik, menyulam, ngangghi’, dan bermain dakon, keterampilan tersebut pun menyebar secara turun-temurun di kalangan masyarakat. ***
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow





