Jika pun harus menjalankan program strategis Pemerintah Pusat, justru dalam hal ini, Sekolah Rakyat Terintegrasi 49, tahun ini tingkat pendaftar Sekolah Dasar (SD) kurang dari sepertiga kouta. Sementara sekolah menengah pertama (SMP) melampaui kouta, namun tidak sampai ⅓, dan sekolah menengah atas (SMA) tidak mencapai target kouta, 30 siswa.

Rata-rata dari tiga lembaga tersebut, pemerintah Kabupaten Sumenep belum mampu mengoptimalkan peluang yang ada di tengah angka 13.000 anak tidak sekolah.

Paradigma arah pembangunan Kabupaten Sumenep bisa dilihat dari pengambil kebijakan (policy maker). Sebagian pendapat mengatakan, struktur masyrakat akan terbentuk melalui kebijakan-kebijakan pemerintah, baik dalam sektor pembangunan ekonomi, budaya, politik dan pendidikan.

Kesan rakyat adalah cerminan pemimpin, dalam hal ini lebih tepat agama seorang pemimpin, telah mempengaruhi rakyatnya.

Dengan demikian, maka masyarakat Sumenep akan lebih memprioritaskan hiburan daripada pendidikan.

Di saat kalender event sebagai program prioritas pemerintah telah menjadi hiburan, mulai dari kota menyebar ke pelosok desa, adalah kesempatan bagi anak-anak yang tidak sekolah itu untuk menikmati.

Paradigma pemimpin ini akan membentuk pemikiran anak-anak tentang hiburan dan masa depannya.