Panduan Praktis! Mengenal Perbedaan Kata Baku dan Tidak Baku Bahasa Madura
PARAMASASTRA, DIMADURA – Belum ada pembahasan mendalam mengenai kata-kata bentuk baku dan tidak baku tentang bahasa Madura.
Paling mudah untuk menemukan contoh keduanya adalah dengan mengamati status atau postingan teman di media sosial. Di sana kita akan mendapatkan banyak contoh kata baku dan tidak baku bahasa Madura.
Kita bisa mengindetifikasinya dengan cara membedakan apakah kata tersebut ditulis dengan ejaan bahasa tulis atau malah menggunakan ejaan bahasa lisan. Sebab, tepat dan tidaknya penulisan ejaan suatu kata merupakan salah-satu ciri apakah kata itu termasuk kata baku atau tidak baku.
Lebih jelas, mari kita menjelajah bersama, berikut ini beberapa panduan praktis cara mengenali perbedaan kata baku dan tidak baku.
1. Apa Itu Kata Baku dan Tidak Baku?
Kata baku adalah bentuk kata yang sesuai dengan kaidah ejaan hasil konsinyasi para pakar bahasa yang kemudian ditetapkan dalam Kamus.
Jika itu bahasa Indonesia, maka kita bisa merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tetapi jika itu bahasa Madura, maka pun kita bisa mempelajari ketentuannya dalam Kamus Besar Bahasa Madura (KBBM), seperti Kamus Tepat Eja yang disusun oleh Adrian Prawitra.
BACA JUGA:
- Puisi Bahasa Madura: “Damar Korong” dan “Jang-bajangan, Jang-lajangan”
- Urgensi Literasi Bahasa Madura: Membangun Jembatan Budaya dan Pendidikan
Sebaliknya, kata tidak baku adalah bentuk kata yang digunakan secara luas dalam percakapan sehari-hari namun tidak selalu sesuai dengan kaidah ejaan resmi.
2. Ciri-ciri Kata Baku dan Tidak Baku
Ada beberapa ciri atau tanda yang menunjukkan bahwa suatu kosakata bahasa Madura termasuk kata baku ataukah tidak baku. Berikut ini ciri-ciri umum kata baku dan tidak baku.
- penggunaan umum: kata baku umumnya digunakan dalam tulisan formal seperti surat, laporan, atau artikel, sedangkan kata tidak baku seringkali muncul dalam percakapan sehari-hari.
- kaidah ejaan: kata baku mengikuti kaidah ejaan yang ditetapkan, sedangkan kata tidak baku mungkin tidak mengikuti kaidah ejaan resmi.
- contoh kata tidak baku: be’en, be’na, be’eri’, cuko’, pade/pada, engki, pudhu, tulat, pidha, dan lain-lain.
- be’en atau be’na: bentuk tidak baku dari kata ba’en (bâ’en) dan ba’na (bâ’na).
- be’eri’: bentuk kata tidak baku dari ba’ari’ (berdasarkan ejaan hasil sarasehan 1973) atau bâ’âri’ (ejaan hasil konsinyasi Balai Bahasa Jawa Timur 2008-2011, telah ditetapkan sebagai EYD tahun 2013)
- cuko’: bentuk tidak baku dari juko’ (1973) atau jhuko’ (ejaan BBJT)
- pade/pada: bentuk tidak baku dari padha (1973) atau paḍâ (EYD baru)
- engki tidak baku karena berdasarkan rumus ejaan bahasa Madura, konsonan tajam k tidak bisa berkumpul dengan vokal halus i. Penulisan yang benar seharusnya adalah enggi (1973), dalam EYD BBJT ditulis dengan engghi (tingkat tengah) atau èngghi (halus tinggi).
- kata pudhu sering kita temukan dalam okara percakapan bahasa Madura di postingan medsos. Ejaan kata tersebut keliru karena mempertemukan konsonan tajam P dengan vokal halus U; kata tidak baku dari budhu atau bhuḍhu. Sama seperti contoh lain setelahnya: tulat (dulat/dhulat) dan pidha (bida/bhidhâ).
3. Cara Mengenali Kata Baku dan Tidak Baku
Untuk dapat mengenal atau mengidentifikasi kata baku dan tidak baku bahasa Madura bisa dengan memperhatikan singkat penjelasan berikut.
BACA BERITA:
Tiap Bulan, Kubutuhan Stok Darah untuk Kabupaten Sumenep 800 hingga 1000 Kantong
- Rujukan Kamus
Gunakan kamus atau sumber resmi seperti KBBM untuk memeriksa apakah suatu kata termasuk dalam kategori baku atau tidak.
- Pola Umum
Perhatikan pola umum dalam perubahan bentuk kata. Misalnya, akhiran (patnotèng) -aghi sering menunjukkan kata baku.
Kata serapan bahasa asing dengan protesis vokal e dan konsonan pengantar seperti ebbis, eppèl, eccas, dan lain sebagainya menandakan kata tersebut tidak baku, bukan kosakata asli bahasa Madura.
4. Contoh Lain Kata Baku dan Tidak Baku
Daftar kosakata dalam tabel berikut adalah contoh lain tentang kosakata baku dan tidak baku dalam bahasa Madura. Simak selengkapnya!
| No. | Tidak Baku | Baku | Keterangan |
| 1 | tuli | duli/dhuli | konsonan tajam t tidak boleh berkumpul dengan vokal halus i. |
| 2 | berre’ | berra’/berrâ’ | beda pengucapan antara vokal bisu e dengan vokal halus a/â yang dibaca ê. Selama bisa menggandengankan konsonan halus (b, dh (ḍ), g, j, d) dengan vokal halus (â, i, u), maka disarankan tidak memakai vokal bisu e, apalagi menggandengkannya dengan vokal tajam (a, è, atau o) |
| 3 | mireng | mereng/mèrèng | Rumus ejaan Bahasa Madura: Tidak boleh menggandengan konsonan tajam (c, k, m, p, s, t, th, n, ng, dan ny) dengan vokal halus (â, i, u). Penulisan kata mireng tersebut keliru karena menggabungkan konsonan tajam m dengan vokal halus i. |
| amain | amaèn | Rumus Ejaan Bahasa Madura secara umum adalah:
|
5. Pentingnya Memahami Perbedaan Ini
Memahami perbedaan antara kata baku dan tidak baku membantu kita dalam berbagai aspek, termasuk:
- komunikasi yang tepat: dengan menggunakan kata baku, kita dapat berkomunikasi dengan jelas dan tepat, terutama dalam tulisan formal.
- penghargaan terhadap bahasa: memahami dan menggunakan kata baku adalah bentuk penghargaan terhadap kekayaan bahasa dan budaya kita.
BACA JUGA: 5 Contoh Anekdot atau Paleggiran Bahasa Madura
Dalam kehidupan sehari-hari, pemahaman akan perbedaan antara kata baku dan tidak baku sangatlah penting.
Dengan mengikuti panduan praktis ini, kita dapat meningkatkan kemampuan berbahasa kita dan lebih menghargai keindahan bahasa Madura.
Bahasa adalah jendela budaya. Untuk mengenal karakter masyarakat suatu daerah, kita bisa mengamatinya dalam percakapan sehari-hari masyarakat daerah tersebut.
Semoga panduan ini bermanfaat bagi paramaos dimadura untuk memahami bahasa Madura dengan lebih baik.***
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow



![12 Contoh Rora Bhâsa Madhurâ [Arsip Dimadura]](https://dimadura.id/wp-content/uploads/2023/10/12-Contoh-Rora-Bhasa-Madhura-Arsip-Dimadura.png)

