dimadura
Beranda Okara Gaguridan Puisi Uni Firdausiyah: Memasak Kosakata, Luka yang Tak Sama, dan Narasi Lima Mei

Puisi Uni Firdausiyah: Memasak Kosakata, Luka yang Tak Sama, dan Narasi Lima Mei

Gambar Ilustrasi Puisi Uni Firdausiyah: Memasak Kosakata, Luka yang Tak Sama, dan Narasi Lima Mei (Doc. Dimadura)

Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1GHÂGHURIDHÂN, DIMADURA – Dalam tiga puisinya ini, Uni Firdausiyah menyulam kata-kata sebagai ruang tafsir yang luas, personal namun tetap universal. Ia coba mengundang pembaca untuk turut merasakan denyut yang tersembunyi di balik tiap bait.

Puisi Memasak Kosa Kata menempatkan bahasa sebagai sesuatu yang hidup dan sakral. Seribu kata bukanlah bahan mentah yang bisa disajikan begitu saja. Ia perlu waktu, perlu intuisi, dan kesiapan batin agar bisa “dimasak” hingga matang. Di sini, puisi menjadi dapur sunyi, dan penyair adalah peracik rasa.

Pada Luka yang (-Tak) Sama, ia menyoal empati dengan cara yang halus namun menyentuh, bahwa seorang penyair tidak sedang mengukur luka orang lain, tapi menyadari keterbatasan dirinya dalam memahami rasa sakit yang tak bisa diukur.

Ada renungan yang sunyi, rasa bersalah yang diam, dan kesadaran bahwa penderitaan tidak bisa diseragamkan.

Sementara Narasi Lima Mei terasa sebagai elegi yang tenang, namun penuh cahaya. Tentang seseorang yang telah tiada—atau mungkin hanya telah menjauh—namun tetap memancarkan kekuatan.

Ada pertanyaan filosofis yang terpendam: apakah kekalahan dan kejatuhan benar-benar nyata, jika seseorang tetap bersinar dalam kenangan dan puisi?

Tiga puisi ini tidak menawarkan jawaban, melainkan membuka pintu-pintu perenungan. Uni Firdausiyah mengajak kita menyusuri kata-kata untuk tidak hanya dibaca, tapi lebih dari itu, untuk direnungi—dan mungkin, untuk menyembuhkan.


Memasak Kosakata

Seribu kosa kata masih terlalu dini untuk dimasak pagi pagi buta
Aku kemudian menampungnya dalam lumbung di sudut kepala
Nanti ketika matahari terbangun kelaparan, aku baru akan memasaknya
Agar kosa kata yang baru matang itu mengepulkan asap karena masih hangat
Dan matahari bisa menciumi aroma masakanku dengan hikmat

Sumenep 22 Mei 2025

Luka Yang (-Tak) Sama
:M.F

Aku menemukanmu tertatih, mengaduh,
Mungkin sebagian dari dirimu lumpuh oleh sesuatu,
Entah oleh sepi, atau oleh luka-luka yang masih enggan pulih.

Aku kemudian melirik lukaku yang tak seberapa,
Yang menurutku tak bisa kureka seberapa sakitnya.
Lalu bagaimana bisa kamu membawa sendiri sakit sebanyak itu?

Malam ini, aku merenung, mungkin menyesalinya,
Tangis yang pernah dan terlanjur pecah,
Seperti tidak pantas,
Seperti terlalu dini aku menyebutku menderita.

Narasi Lima Mei

Aku tak pernah melihatnya
Kamu mungkin telah terbang ke berbagai tempat
Ke ruang ruang puisi
Ke ruang ruang abadi
Ke tempat tempat purna
Dimana sayapmu bersinar lebih terang dari biasanya

Kemudian, entah karena kalender kembar menunjukkan hari ini adalah milikmu
Atau karena matamu tak layak berkabut oleh rasa ragu
Aku melihatmu seperti tidak pernah di rundung kegagalan
Seperti tak sekalipun tersandung kehampaan
Seperti tak pernah jatuh
Seakan bersinar adalah benar-benar khasmu


Img 20250523 Wa0012Uni Firdausiyah | Lahir di pulau Giliyang, 18 Desember 2005. Alumni sanggar Sareang, Miftahul Ulum. Pernah juga aktif di sanggar Kencana MA Nasy’atul Muta’allimin. Sekarang aktif sebagai anggota LPM Esensi STIT Aqidah Usy’muni.

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan