Salah satu persoalan yang disorot ialah kelangkaan BBM. Iskil menilai masyarakat tidak seharusnya terus menanggung dampak dari persoalan distribusi.

“Rakyat tidak butuh penjelasan yang berputar-putar. Rakyat butuh BBM tersedia dan mudah diakses. Kalau ada persoalan distribusi, itu yang harus diselesaikan,” katanya.

Ia mengatakan, persoalan tersebut akan menjadi bagian dari agenda pengawalan BEM SI Kerakyatan Jawa Timur sesuai dengan hasil pembahasan dalam Rakerwil.

Selain persoalan energi, isu keadilan dalam Tragedi Kanjuruhan juga disebut masih menjadi perhatian mahasiswa.

Iskil mengatakan, selama masih terdapat pertanyaan mengenai proses keadilan, mahasiswa akan tetap mengawal persoalan tersebut.

“Selama persoalan keadilan masih dipertanyakan, selama itu pula mahasiswa akan terus mengawal,” tegasnya.

Iskil menambahkan, pelaksanaan Rakerwil di lingkungan pesantren juga dinilai memiliki makna tersendiri. 

Sementara itu, Presiden Mahasiswa UNUJA sekaligus Koordinator Isu Nasional EBT BEM SI Kerakyatan, Hedi Firmansyah, mengatakan forum itu menjadi momentum untuk mempertemukan tradisi intelektual kampus dengan nilai pengabdian kepada masyarakat.

Menurut Hedi, semangat tersebut sejalan dengan nilai yang diwariskan KH Zaini Mun’im, pendiri sekaligus pengasuh pertama Pondok Pesantren Nurul Jadid.

“Ini perdana BEM SI mengadakan Rakerwil di pondok pesantren. Semangatnya sejalan dengan apa yang diwasiatkan KH Zaini Mun’im, bahwa santri yang tidak berjuang di masyarakat dan hanya memikirkan ekonomi serta pendidikannya sendiri, beliau tidak ridha,” ujar Hedi.