SEJARAH, DIMADURA – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Bhayangkara yang diperingati pada 1 Juli 2026, Kepolisian Republik Indonesia melakukan rotasi dan mutasi jabatan secara besar-besaran di sejumlah wilayah, termasuk di Pulau Madura.
Melalui kebijakan mutasi terbaru yang ditetapkan Kapolri, tongkat estafet kepemimpinan di tiga kepolisian resor di Madura resmi berganti sebagai bagian dari penyegaran organisasi dan penguatan pelayanan kepada masyarakat.
Tiga perwira menengah yang mendapat amanah baru tersebut yakni AKBP Ariek Indra Sentanu yang dipercaya memimpin Polres Sumenep, AKBP Wahyu Hidayat sebagai Kapolres Pamekasan, serta AKBP Anang Hardiyanto yang akan menakhodai Polres Sampang.
Ketiganya dijadwalkan mengikuti upacara serah terima jabatan (sertijab) dalam waktu dekat sebelum resmi menjalankan tugas dan tanggung jawab di wilayah masing-masing di Pulau Madura.
Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto menjelaskan bahwa mutasi merupakan bagian dari mekanisme organisasi yang lazim dilakukan di lingkungan Polri melalui pola tour of duty dan tour of area.
Menurutnya, langkah tersebut bertujuan menjaga dinamika organisasi agar tetap adaptif, profesional, dan mampu menjawab tantangan tugas kepolisian yang terus berkembang di tengah masyarakat.
Selain sebagai bentuk penyegaran organisasi, pergantian pimpinan di tingkat Polres juga diharapkan mampu menghadirkan energi baru dalam memperkuat pelayanan publik dan menjaga stabilitas keamanan di wilayah hukum masing-masing.
Harapan Baru untuk Kamtibmas Madura
Momentum pergantian kepemimpinan menjelang HUT ke-80 Bhayangkara ini juga diiringi harapan besar agar para kapolres baru dapat segera menyesuaikan diri dengan karakteristik sosial dan budaya masyarakat Madura.
Kapolda Jawa Timur berharap para pejabat baru mampu menghadirkan inovasi dalam pelayanan kepolisian sekaligus memperkuat sinergi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, serta seluruh elemen masyarakat.
"Harapannya adalah para Kapolres yang baru dilantik dapat segera beradaptasi dengan karakteristik wilayah masing-masing, membawa inovasi segar, serta semakin mempererat sinergi antara kepolisian dengan para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah," ujarnya.
Dengan kolaborasi yang semakin erat, situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Madura diharapkan tetap kondusif, aman, dan terkendali, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepolisian kepada masyarakat.
Pergantian tiga kapolres ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Polri untuk terus memperkuat institusi yang Presisi, profesional, dan semakin dekat dengan masyarakat dalam momentum peringatan HUT ke-80 Bhayangkara tahun 2026.
Sekilas Sejarah HUT Bhayangkara
Di balik peringatan Hari Bhayangkara setiap 1 Juli, terdapat perjalanan panjang sejarah kepolisian Indonesia yang turut mengiringi lahirnya bangsa ini sebagai negara merdeka.
Tanggal 1 Juli diperingati sebagai Hari Bhayangkara karena pada tanggal tersebut, tepatnya tahun 1946, pemerintah menetapkan Djawatan Kepolisian Negara berada langsung di bawah Perdana Menteri melalui Penetapan Pemerintah Nomor 11 Tahun 1946. Kebijakan itu menjadi tonggak penting yang menandai berdirinya Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai institusi nasional yang mandiri dan bertanggung jawab langsung kepada pemerintah.
Namun jejak pengabdian kepolisian di Indonesia sebenarnya telah dimulai jauh sebelum itu. Pada masa kerajaan Nusantara, dikenal aparat keamanan kerajaan yang bertugas menjaga ketertiban wilayah dan keselamatan rakyat. Memasuki era kolonial Belanda hingga pendudukan Jepang, sistem kepolisian terus mengalami perubahan hingga akhirnya menjadi bagian penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pada masa revolusi fisik setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, anggota kepolisian tidak hanya menjalankan tugas menjaga keamanan, tetapi juga turut mengangkat senjata bersama rakyat untuk mempertahankan kedaulatan bangsa dari ancaman penjajah yang ingin kembali berkuasa.
Karena itulah, Hari Bhayangkara bukan sekadar perayaan hari jadi institusi kepolisian, melainkan juga momentum untuk mengenang sejarah panjang pengabdian Polri dalam menjaga keamanan negara, menegakkan hukum, serta melindungi dan melayani masyarakat.
Memasuki usia ke-80 pada tahun 2026, Polri menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perkembangan teknologi digital, kejahatan siber, hingga dinamika sosial masyarakat yang terus berubah.
Di usia delapan dekade ini, semangat transformasi menuju Polri yang Presisi, profesional, modern, dan humanis menjadi harapan besar masyarakat agar institusi Bhayangkara semakin dipercaya dan semakin dekat dengan rakyat.
Momentum HUT ke-80 Bhayangkara pun menjadi pengingat bahwa menjaga keamanan bukan hanya tugas aparat kepolisian semata, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa demi terciptanya Indonesia yang aman, damai, dan sejahtera. ***

