Serangan Pertama Mataram ke Madura: Strategi Sultan Agung Usir Belanda
GHARDU, MADURA – Kerajaan Mataram, salah satu kerajaan besar di Pulau Jawa, dipimpin oleh Sultan Agung sejak tahun 1613 Masehi.
Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Belanda mulai menguasai tanah Jawa lewat siasat licik. Mereka mendirikan lembaga, menerapkan sistem ijon, tanam paksa, dan membeli hasil bumi dengan harga murah, menyengsarakan rakyat demi keuntungan besar bagi negeri asal mereka.
Melihat penindasan yang semakin menjadi-jadi, Sultan Agung murka. Ia tak rela rakyat menderita, sementara hasil jerih payah mereka diambil paksa. Maka, dengan tekad bulat, ia merancang strategi untuk mengusir Belanda dari Jawa.
Langkah awalnya adalah memperluas wilayah kekuasaan dengan menundukkan kerajaan-kerajaan di Jawa dan Madura.
Beberapa wilayah pesisir seperti Wirosobo, Lasem, dan Tuban berhasil ditaklukkan. Hingga pada tahun 1623, Sultan Agung mengirim pasukan menyerang Madura.
Penyerangan melalui laut dipimpin Adipati Honggodipo dari Jepara, sedangkan jalur darat dikomandoi Pangeran Selorong. Satu pasukan lain disiagakan untuk menghadang bala bantuan pihak musuh.
Di sisi lain, kerajaan Arosbaya dan Blega sempat mengalami konflik internal, namun akhirnya bersatu demi menjaga persatuan. Ikrar bersama ditegakkan: jika satu diserang, yang lain wajib membantu.
Sayangnya, ketenangan rakyat Madura terusik saat pasukan Mataram tiba-tiba mendarat di pelabuhan Arosbaya tanpa peringatan. Tanpa persiapan, kerajaan Arosbaya segera dilumpuhkan.
Namun, Pangeran Blega segera mengirim pasukan bantuan. Pada malam hari, mereka menyerang dari arah selatan.
Pertempuran sengit pecah. Pasukan Blega menyerbu dan berhasil memukul mundur Mataram. Sebanyak 16 pembesar Mataram, termasuk Panglima Perang Pangeran Sujanapura, tewas di medan laga.
Kemudian pasukan Mataram pun terpaksa mundur ke kapal dan kembali ke Mataram dengan membawa jenazah para korban.***
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow



