“Saya hanya ditanya, apakah saya ambil uang dengan nominal yang disebut Novia Arvianti, ya saya tinggal bilang ‘iya’, seperti yang diinstruksikan Novia Arvianti,†katanya.
Sebagai orang awam yang tidak memahami prosedur perbankan, Aisah mengaku hanya mengikuti instruksi karena percaya pada sosok yang selama ini dikenalnya sebagai tetangga.
Tiga hari setelah pencairan, Novi datang lagi dan menyerahkan uang Rp1 juta. “Saya tanya ini uang apa, dia bilang itu uang pribadinya dan ikhlas memberikannya kepada saya," terangnya.
Sejak saat itu, masa tua pasangan ini berubah total. Gaji pensiun Abdul Hamid terus dipotong otomatis sebesar Rp2.112.000 setiap bulan. Pada awal pemotongan, uang yang tersisa hanya sekitar Rp600 ribu. “Sekarang sudah di angka Rp980 ribu,†tuturnya lemas.
Dengan uang pensiun yang terus menyusut, Aisah mengaku keluarganya tidak lagi punya banyak pilihan. Apa pun yang bisa menghasilkan, mereka kerjakan. Apa pun yang bisa dijual, terpaksa dilepas.
“Sambil menanam apa yang bisa dijadikan tambahan biaya hidup, terpaksa saya harus jual tanah. Ya mau dapat darimana lagi, gaji suami sudah tinggal sedikit, tiap bulan terpotong kan,†akunya.
Tekanan ekonomi yang terus datang juga disebut membuat rumah tangga mereka kerap diwarnai ketegangan. “Saya di posisi ini hanya bisa nangis. Kecewa, marah dan tidak terima,†katanya.
Aisah juga mengungkap, ketika dirinya mulai berbicara soal jalur hukum, seorang Account Officer (AO) BRI Cabang Sumenep bernama Ridwan disebut datang ke rumah.
“Saya langsung menyalahkan Ridwan, karena dia sebagai AO kok bisa tidak mengontrol bawahannya,†tukasnya.
Menurut pengakuannya, Ridwan sempat menawarkan bantuan uang selama beberapa bulan. Namun tawaran itu urung berlanjut setelah Aisah tetap memilih mencari keadilan.

