SUMENEP, DIMADURA — Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur mengungkap kronologi meninggalnya seorang pendaki asal Kabupaten Sumenep, Madura, saat melakukan pendakian di Gunung Argopuro. Korban bernama Jaelani (26) diduga meninggal akibat mengalami hipotermia setelah kondisi kesehatannya terus menurun di jalur pendakian.
Kepala BKSDA Jawa Timur, Nur Patria, mengatakan kondisi korban mulai memburuk sejak 4 Agustus 2026 ketika berada di kawasan Rawa Embik, salah satu titik di jalur pendakian Gunung Argopuro. Sehari kemudian, tepatnya Rabu (5/8/2026), Jaelani dinyatakan meninggal dunia.
"Korban diduga mengalami hipotermia. Kondisi kesehatannya terus menurun sejak 4 Agustus dan meninggal dunia pada 5 Agustus," ujar Nur Patria, Sabtu (8/8/2026).
Menurutnya, suhu udara yang sangat rendah di kawasan Gunung Argopuro diduga menjadi penyebab utama korban mengalami hipotermia. Saat ini kawasan tersebut tengah mengalami fenomena bediding, yakni kondisi ketika suhu udara turun drastis, terutama pada malam hingga pagi hari.
Proses evakuasi dilakukan oleh petugas pos pendakian bersama tim relawan. Setelah berhasil dievakuasi melalui jalur pendakian hingga Pos Bremi pada Kamis (6/8/2026), jenazah korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit Waluyo Jati, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo.
Nur Patria menjelaskan, sebelum melakukan pendakian Jaelani telah memenuhi persyaratan administrasi, termasuk membawa surat keterangan kesehatan. Namun, kondisi fisiknya tiba-tiba menurun ketika berada di kawasan Rawa Embik.
"Informasi yang kami terima, korban telah melengkapi persyaratan kesehatan. Tetapi saat tiba di Rawa Embik kondisi kesehatannya terus menurun hingga akhirnya meninggal dunia," katanya.
Atas peristiwa tersebut, BKSDA Jawa Timur mengimbau seluruh pendaki agar tidak hanya mempersiapkan perlengkapan pendakian, tetapi juga memastikan kondisi fisik benar-benar prima serta memperhatikan perkembangan cuaca sebelum memulai perjalanan.
Menurut Nur Patria, suhu di sejumlah titik jalur pendakian seperti Cikasur hingga Taman Hidup saat ini dapat mencapai 5 hingga 7 derajat Celsius, sehingga berisiko memicu hipotermia apabila pendaki tidak memiliki persiapan yang memadai.
"Pendaki harus saling mengingatkan dan tidak memaksakan diri apabila kondisi tubuh sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan," tegasnya.

