SUMENEP, DIMADURA–Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, kembali menggelar pelatihan Santri Entrepreneur Plasma 3.
Kali ini, pelatihan berfokus pada pengolahan bawang merah menjadi produk bernilai tambah.
Pelatihan tersebut berlangsung di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ibrohimy, Desa Basoka, Kecamatan Rubaru, Sumenep, selama tiga hari, 14-16 September 2026.
Acara itu diikuti 32 peserta dan pendamping bertujuan untuk mencetak santri Entrepreneur yang hebat dan kompeten.
Kepala Disbudporapar Sumenep Faruq Hanafi mengatakan, merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Sumenep untuk mencetak santri yang memiliki kemampuan kewirausahaan dan mampu mengembangkan usaha secara mandiri.
"Ini merupakan kegiatan kedua. Sebelumnya, kami melaksanakan kegiatan pertama di Dinas Perikanan dengan pelatihan pengembangan ikan lele. Saat itu diikuti lima pondok pesantren," kata Faruq.
Menurut dia, pelatihan pengolahan bawang merah dipilih karena Kecamatan Rubaru merupakan salah satu daerah penghasil bawang merah dengan kualitas yang baik.
Bawang merah yang selama ini dijual dalam bentuk mentah dinilai masih memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan melalui pengolahan dan pengemasan.
"Kalau hanya dijual dalam bentuk mentah, nilainya tentu sekitar Rp40.000 per kilogram. Sangat disayangkan jika berhenti di situ. Padahal bawang merah di Kecamatan Rubaru bagus dan ukurannya besar. Bahkan, sebelumnya sudah ada yang diekspor," ujarnya.
Melalui pelatihan itu, para santri diperkenalkan dengan teknologi pengolahan bawang merah menjadi berbagai produk, seperti steak bawang dan bawang goreng.
Hasil produknya, kata Faruq, kemudian diarahkan untuk dikemas secara menarik agar memiliki nilai jual lebih tinggi.
"Dengan sentuhan teknologi dan pelatihan seperti ini, bawang merah bisa diolah dan dikemas dengan baik. Dari yang sebelumnya sekitar Rp40.000 per kilogram, ketika sudah menjadi produk olahan bisa memiliki nilai jual hingga sekitar Rp200.000," Jelas dia.
Menurutnya, pelatihan selama tiga hari itu tidak hanya memberikan materi secara teori. Peserta juga mengikuti praktik pengolahan hingga pemasaran produk.
Faruq menegaskan, program Santri Entrepreneur tidak berhenti setelah pelatihan selesai.
Pemerintah daerah akan melakukan pendampingan dan pemantauan agar para peserta mampu mengembangkan usahanya hingga menjadi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Santri-santri kita ingin dibuat berdaya. Hari ini kami juga membantu beberapa alat berbasis teknologi dan bahan baku. Setelah berkembang, kami akan terus memantau sampai mereka menjadi UMKM, bahkan memiliki usaha seperti angkringan," ucapnya.
Dia menyebut keberlanjutan program tersebut telah menunjukkan hasil. Beberapa peserta pelatihan pada 2025, misalnya, telah mulai mengembangkan usaha setelah mengikuti program kewirausahaan santri.
"Ada santri yang membuka angkringan saat acara Madura Culture Festival (MCF). Kemudian ada juga dari Bulutoh yang sukses menjadi pengusaha batik. Ini menjadi bukti bahwa program wirausahawan santri dapat berkelanjutan dan tidak hanya berhenti pada pelatihan," ungkapnya.
Faruq menjelaskan pelatihan itu juga melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah dan lembaga terkait.
Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Perdagangan (DKUPP) berperan dalam aspek pemasaran. Sementara sektor perbankan, termasuk BPRS Bhakti Sumekar, mendukung dari sisi permodalan.
Adapun Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) turut mendukung dalam aspek perizinan usaha.
Sementara itu, Pengasuh Ponpes Al Ibrohimy KH Mohammad Mawardi menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep yang telah memilih lembaganya sebagai lokasi pelatihan pengolahan bawang merah.
"Kami menyampaikan banyak terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Sumenep, khususnya Bapak Bupati Sumenep, yang telah menjadikan lembaga kami sebagai tempat pelatihan pengolahan bawang merah," tutur Mawardi.
Dia berharap program tersebut tidak berhenti pada kegiatan pelatihan.
Menurut Mawardi, peserta perlu mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan agar mampu memproduksi dan memasarkan produk secara mandiri.
"Harapan saya, kegiatan ini tidak cukup hanya pelatihan. Tentunya harus terus-menerus memproduksi sehingga dapat menambah jumlah UMKM di Kabupaten Sumenep," ujarnya.
Mawardi menilai pelatihan tersebut memberikan wawasan, keterampilan, serta pengalaman kewirausahaan baru bagi para santri.
"Ini bisa menambah wawasan baru, skill, dan jiwa entrepreneur bagi para santri," katanya.
Mawardi menyebutkan, antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut cukup tinggi. Hal itu terlihat dari banyaknya warga yang menanyakan pelaksanaan pelatihan sebelum kegiatan dimulai.
Sehingga, dia menilai keterampilan yang diperoleh peserta dapat diterapkan untuk mengembangkan usaha sekaligus membantu meningkatkan pendapatan keluarga.
"Di Desa Basoka memang bawang merah menjadi salah satu unggulan. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa mendorong bertambahnya lahan baru dan memberikan manfaat bagi masyarakat," pungkasnya. ***

