Cawan Teh di Pagi Hari
Uap teh mengepul dari cawan tanah liat, mendekap dinginnya pagi. Warna kehijauan membias di permukaan air, seperti kenangan yang masih tersimpan di sini.
Seorang sahabat datang tanpa suara, duduk di hadapanku, tersenyum lembut. Kami tak berbicara, namun tahu, kata-kata hanyalah gangguan dalam kebersamaan.
Dalam keheningan yang damai ini, waktu seolah berhenti berjalan. Hanya daun teh yang jatuh perlahan, seperti usia, yang menghilang dalam sunyi.
---
Empat puisi di atas, dengan kesederhanaan yang anggun, menghadirkan dunia tempat rindu dan kenangan tinggal dalam keheningan.
Mereka, kata-kata di dalamnya, seolah sedang mengajak kita untuk memahami bahwa di balik kesunyian alam, ada keabadian yang damai, di mana kehidupan, pertemuan, dan perpisahan menjadi bagian dari keselarasan.
Semoga puisi-puisi ini memberi napas pada keheningan kita, menghadirkan kerinduan yang jauh, namun terasa begitu dekat di dalam hati.***

