Kunjungi Pesantren Kyai Mudrikah, Kepala Kankemenag Jatim Ungkap Makna Nyambhung Bhâlâ sebagai Tradisi Keilmuan
NEWS, DIMADURA – Kepala Kankemenag Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar, berkunjung ke Yayasan Kyai Mudrikah Kembang Kuning dan memunculkan peristiwa Nyambhung Bhâlâ yang menguatkan ingatan kolektif dan jaringan kekerabatan pesantren, Minggu (5/4/2026).
Kehadiran Kakanwil Jatim disambut langsung oleh Dirut IBS PKMKK Achmad Muhlis, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Senat sekaligus Guru Besar di UIN Madura, Pamekasan.
Diskusi berlangsung hampir tiga jam. Tema nasab menjadi pusat pembahasan. Kepala Kankemenag Jatim menjelaskan bahwa nasab tidak berdiri sebagai garis biologis. Nasab bekerja sebagai pengikat nilai dan sejarah.
“Nasab bukan sekadar silsilah. Ia adalah ikatan sejarah dan spiritual yang diwariskan untuk menjaga nilai-nilai para pendahulu,” kata Kepala Kankemenag Saruji.
Para tokoh menyebut nama para leluhur seperti Bujuk Ismail Kembang Kuning, Bujuk Ajunan Sentol, Bujuk Azhari Bagandan, hingga Bujuk Bujuden Pamoroh. Penyebutan itu menghidupkan kesadaran tentang rangkaian ulama yang membentuk pesantren.
Kepala Kankemenag Saruji menilai pembahasan nasab sebagai upaya menghidupkan kembali memori perjuangan. “Ketika nasab dibicarakan, yang sebenarnya dihidupkan adalah memori perjuangan para ulama,” jelasnya lebih lanjut.
Ia melihat peristiwa Nyambhung Bhâlâ sebagai momen penguatan identitas sosial. Peristiwa itu membangun rasa kebersamaan yang tumbuh dari cerita asal-usul dan pengalaman lintas generasi.
“Identitas sosial terbentuk dari cerita bersama tentang asal-usul dan perjuangan,” katanya.
Dalam tradisi pesantren, nasab dan sanad menjadi jalur transmisi ilmu. Relasi guru dan murid menjaga aliran nilai tersebut. Saruji menegaskan bahwa keberlanjutan pesantren berdiri di atas relasi itu.
“Negara itu bagian dari jaringan sosial masyarakat, bukan sesuatu yang jauh,” paparnya.
Silsilah Kakanwil yang tersambung dengan banyak pesantren di Madura dan Tapal Kuda memperlihatkan bahwa pesantren hidup sebagai jaringan besar pendidikan Islam Nusantara. Jaringan itu terbentuk dari relasi keilmuan, dakwah, dan kekerabatan.

Menurut Sruji, momen Nyambhung Bhâlâ mengingatkan pesantren pada akar sejarahnya. Ia memberikan dorongan moral agar pesantren menjaga arah perkembangannya.
“Masa depan pesantren selalu terhubung dengan akar sejarahnya. Dari sanalah kekuatannya,” simpulnya.
Kunjungan Kakanwil ke IBS PKMKK juga ditandai dengan penyerahan simbolik 197 judul buku ber-ISBN karya santri. Penyerahan itu memuat pesan penting tentang pergeseran posisi pesantren dalam ekosistem keilmuan. Pesantren mulai bergerak dari posisi “konsumen ilmu” menuju “produsen ilmu.”
“Produksi buku oleh santri menunjukkan budaya literasi yang tumbuh sebagai kerja kolektif. Setiap buku mewakili proses panjang membaca, berdiskusi, menulis, dan menerbitkan. Aktivitas menulis juga membentuk habitus intelektual santri. Mereka dilatih untuk berpikir sistematis dan reflektif,” ungkap Dirut IBS PKMKK, Achmad Muhlis.
Muhlis menambahkan bahwa penyerahan buku Konsep Kurikulum Al-Muwahhid memperlihatkan posisi literasi yang tidak berdiri sebagai program tambahan. “Literasi menjadi bagian dari desain pendidikan IBS PKMKK yang menggabungkan ilmu keislaman, ilmu umum, karakter, dan keterampilan abad 21,” katanya.
Penyerahan profil kelembagaan bersama ratusan karya santri itu menegaskan hubungan antara identitas institusi dan produktivitas intelektual.
Peristiwa tersebut juga membuka ruang dialog simbolik antara negara dan pesantren. Negara mengakui kontribusi pesantren. Pesantren menunjukkan kesiapan menjadi mitra dalam pembangunan sumber daya manusia.
“Dari itu, maka arah pendidikan pesantren saat ini sebenarnya sudah menempatkan literasi sebagai fondasi pembentukan karakter dan kompetensi di abad 21,” lanjut pria yang saat ini menjabat Ketua Senat UIN Madura, Pamekasan.
Menurutnya, penyerahan 197 buku tersebut sekaligus menjadi simbol bahwa pesantren sedang meneguhkan dirinya sebagai bagian dari peradaban literasi. “Buku-buku tersebut menjadi jejak yang menandai masa depan yang sedang ditulis oleh para santri,” pungkasnya.
***
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow





