Ia mengungkapkan, dukungan pemerintah menjadi bukti bahwa negara memberikan ruang bagi berkembangnya karya kreatif dari daerah.
"Terima kasih kepada Pak Menteri Teuku Riefky Harsya atas dukungan yang nyata. Ini bukti bahwa negara hadir ketika daerah berkarya," tuturnya.
Achsanul meyakini kehadiran FOUFO akan membuka jalan bagi lahirnya karya-karya baru yang mengangkat kekayaan budaya daerah ke tingkat nasional.
"Dan ini baru awal. Dari satu film akan lahir film-film lain, dari satu keberanian akan tumbuh keberanian yang lain. FOUFO membuka pintu, dan tugas kita menjaga pintu itu tetap terbuka," ujarnya.
Ia menyebutkan kekuatan utama FOUFO terletak pada kemampuannya memadukan hiburan dengan pesan-pesan kemanusiaan.
Film tersebut dinilai berhasil mengangkat isu kemiskinan, bakti kepada orang tua, dan nilai-nilai keimanan dalam balutan komedi yang ringan.
"FOUFO adalah komedi yang dibumbui substansi. Suatu hari nanti, kita berharap lahir karya sebaliknya, substansi yang dibumbui komedi. Karena tertawa dan berpikir tidak pernah bertentangan. Keduanya bisa berjalan beriringan di dalam satu cerita," jelasnya.
Lebih jauh, Achsanul berharap representasi Madura dalam industri perfilman semakin beragam dan tidak lagi terbatas pada stereotip yang selama ini melekat.
Ia menegaskan, Madura memiliki banyak tokoh dan kisah inspiratif yang layak diangkat ke layar lebar.
"Madura bukan hanya besi tua dan sate. Ada pengusaha Madura, ada kiai Madura, ada pahlawan-pahlawan dari Madura yang layak diceritakan. Semua wajah itu menunggu gilirannya untuk hadir di layar. FOUFO adalah pembuka jalan, bukan titik akhir," ucap dia.

